Pendekatan Konseptual Ekologi Manusia

Pendekatan Konseptual Ekologi Manusia


Pengantar
Ekologi manusia, secara umum dideskripsikan sebagai studi dari interaksi manusia dengan lingkungannya, pada akhir-akhir ini mendapat perhatian yang sangat meningkat dalam semua ilmu-ilmu social. Meskipun demikian, kenyataannya hanya ada sedikit persamaan persepsi tentang apa sebenarnya dan bagaimana seharusnya ekologi manusia itu. Secara khusus ada diskusi yang serius dan berkesinambungan tentang penerapan yang sesuai dari pendekatan teoritis yang bermacam-macam itu untuk mengerti interaksi manusia dengan lingkungannya.
Sementara adanya perbedaan – perbedaan dari dasar pandang dalam disiplin ilmu yang menunjukkan tingkat kegiatan yang masih baru mulai, hal itu juga dapat menghadirkan adanya hambatan-hambatan untuk mencapai pengertian dalam bentuk dan arah yang utuh dari bidang studi ini bagi nonspesialis. Masalah ini menjadi lebih parah dengan seringnya ada sifat polemic dengan pernyataan-pernyataan yang telah diatur berkaitan dengan ekologi manusia. Banyak penulis melakukan pendekatan dengan diskusi-diskusi teoritis seakan-akan mereka berurusan dengan masalah teologi, menggunakan model-model mereka sendiri sebagai satu-satunya yang benar sementara mereka menyingkirkan pendekatan-pendekatan lain yang dianggapnya, kuno, keras kepala atau bahkan tak bermoral. Cara penyingkiran yang di luar control ini pada suatu waktu dianggap pantas tetapi juga mempunyai kecenderungan untuk mengaburkan adanya alternatif pendekatan-pendekatan konseptual yang sudah baku.
Dalam laporan ini, alternative model – model konseptual bagi hubungan manusia dengan lingkungannya dideskripsikan dalam urutan histories dimana mereka muncul dalam literature ilmiah. Pendekatan kronologis seperti ini membantu untuk mendapatkan gambaran adanya saling pengaruhi antara hasil-hasil reset dan formulasi konsep teoritis. Tidak ada superioritas yang dihubungkan disini kecuali paradigma perkembangan mutakhir. Kenyataannya model-model tertentu yang popular akhir-akhir ini barangkali dipandang sebagai gerak mundur dari titik tolak perkembangan teori ilmiah sebagai keseluruhan.
Meskipun diantara ilmuwan ilmu social mendiskreditkan teori yang klasik atau teori modern yang masih awal-awal tentang pengaruh lingkungan terhadap masalah manusia (determinisme dan posibilisme), teori-teori ini sering digunakan oleh para ahli sejarah. Seorang ahli sejarah yang terkemuka seperti Arnold J. Toynbee, yang menggunakan pendirian ahli posibilis dalam bukunya yang sangat berpengaruh “A Study of History”.
Model dari ekologi budaya yang dikemukakan oleh Julian Steward masih merupakan paradigma yang memandu banyak peneliti, tetapi pada akhir-akhir ini telahtertantang oleh model dasar ekosistem yang dikemukakan oleh Andrew P. Vayda dan Roy A. Rappaport.
Ciri-ciri pembuat keputusan yang individual adalah focus dari model-model dasar pelaku dari ekologi manusia, dan sistem-sistem model dari ekologi manusia menekankan penelitian dari interaksi antarasistem social manusia dan ekosistem-ekosistem berdasar pada saling robah yang timbale balik dari energi, materi dan informasi.

The Origin Of Human Ecology
Sejak masa dulu telah banyak usaha untuk menjelaskan peristiwa-peristiwa berkaitan dengan pengaruh lingkungan terhadap perilaku manusia. Astrology menyampaikan satu sistem pemikiran awal berkaitan dengan kekuatan lingkungan terhadap tindakan manusia. Meskipun sistem ini sama sekali dideskreditkan oleh teori ilmiah astronomi modern, kepercayaan bahwa gerak-gerak bintang mengontrol nasib manusia masih tetap kuat dipegang oleh imaginasi popular, sebagai bukti dapat ditunjukkan dengan masih munculnya kolom nasihat-nasihat astrologis dalam harian-harian.
Yang paling sesuai dengan pemikiran ilmiah modern adalah bahwa para filosof Yunani kuno mengenali/ mengetahui bahwa manusia itu dipengaruhi baik oleh alam maupun oleh kekuatan untuk berubah dalam lingkungannya. Di situ dinyatakan, sebagi contoh bahwa berbagai bentuk organisasi politik dari negarakota di Yunani dan di kekaisaran di Timur merefleksikan adanya pengaruh-pengaruh dari musim pada kepribadian dari penduduknya. Tema ini kemudian dikembangkan oleh Montesquieu dan para penulis Masa Pencerahan/ Enlightenment Perancis dan pada masa-masa akhir digunakan oleh ahli geografi Amerika Samuel Huntington. Penulis-penulis klasik yang lain berkomentar terhadap adanya kerusakan pemandangan alam di Attica dan di Afrika Utara yang diakibatkan karena penebangan hutan dan overgrazing, sebauh tema yang diambil pada pertengahan 1800-an oleh George P. Marsh, yang bukunya “Man and Nature” atau Phisical Geography as Modified by Human Action” adalah tulisan-tulisan yang akhir-akhir ini popular yang membuktikan adanya kehancuran ekologi. Tulisan-tulisan awal ini, pada umumnya lebih merupakan anecdote yang tidak menyajikan teori hubungan-hubungan manusia dan lingkungannya secara koheren. Baru pada akhir abad XIX, dengan perkembangan geografi dan antropologi sebagai disiplin ilmu, ekologi manusia menjadi subyek studi yang sistematik. Pendekatan teoritis yang pertama dicoba adalah determinisme lingkungan – suatu permulaan yang keliru yang sangat memperlambat perkembangan ekologi manusia yang berikutnya.

Environmental Determinism
Kira-kira pada pergantian abad ini, seorang geographer terkenal yang bernama Friedrich Ratzel di Jerman dan murid Amerikanya, Ellen C. Semple, mendukung pendapat bahwa manusia itu sepenuhnya adalah produk dari lingkungannya, suatu teori yang disebut determinisme lingkungan. Pengikut dari aliran ini, yang mendominasi dengan baik pemikiran geografis sampai th. 1920-an, menyatakan bahwa semua aspek dari budaya dan tingkah laku manusia disebabkan oleh pengaruh lingkungan secara langsung (gb. 1). Misalnya, orang Inggris adalah pelaut karena mereka hidup di tempat tinggal yang dikelilingi oleh laut; orang Arab adalah orang yang beragama monoyeis Islam karena hidup di tengah padang pasir yang kosong yang mengarahkan pemikirannya kepada Tuhan YME; orang Eskimo adalah bangsa nomad yang primitive karena kondisi habitat kutubnya yang keras yang menghambat perkembangan mereka menjadi bangsa dengan peradaban yang kompleks. Buku Semple dan yang lainnya penuh dengan daftar contoh yang panjang yang nampaknya merupakan determinan lingkungan dari bentuk-bentuk budaya yang masuk akal. Meskipun sebagai hal yang baru nampaknya menarik, tetapi klaim dari korelasi sebab antara lingkungan dan budaya ini dengan mudah disangkal apabila digunakan pertimbangan yang hati-hati. Misalnya, orang Tasmania yang tinggal di sebuah pulau tidak seperti orang Inggris, mereka tidak membuat kapal; suku-suku Arab yang berkelana di padang pasir yang sepi selama ribuan tahun sebelum datangnya Muhammad adalah penyembah patung-patung; padang es yang pada waktu lampau menjadi jalur kereta salju orang Eskimo sekarang merupakan daerah kegiatan balap mobile s sepanjang pipa-pipa minyak raksasa. Ada berbagai variasi dari perilaku manusia yang kira-kira sama dengan setting geografis yang dengan demikian merupakan determinan lingkungan.

Environmental Possibilism
Sebagai ganti dari determinisme, suatu teori baru yang disebut possibilisme lingkungan, dikemukakan. Penduduknya menyatakan bahwa sementara lingkungan tidak secara langsung mempengaruhi perkembangan khusus dari budaya, kehadiran atau ketiadaan dari factor lingkungan yang khusus menentukan batas-batas pada perkembangan dengan memungkinkan atau mencegah terjadinya perkembangan tersebut (gb. 2). Dengan demikian, orang-orang di daerah kepulauan mungkin bukan; penduduk daerah bertemperatur sedang barangkali mempraktekkan pertanian, tetapi mereka yang tinggal di kutub tidak dapat. Nilai dari pendekatan posibilistis barangkali ditunjukkan dengan baik sekali oleh seorang antropolog Amerika A. L. Kroeber, yang menunjukkan bahwa orang Indian di barat laut Amerika Utara tidak dapat menerapkan bertani jagung Indian seperti tetangganya di selatan karena sifat musimnya yang berbeda. Dengan demikian lingkungan membatasi kemampuan dari budayanya kea rah suatu perkembangan budaya tertentu.
Pendirian posibilis juga diambil oleh sejarahwan Inggris Arnold Toynbee dalam bukunya “A Study in History”, dimana dia berpendapat bahwa perkembangan peradaban dapat dijelaskan dalam kaitannya dengan respons terhadap tantangan lingkungan. Budaya yang berada di daerah tropis yang lunak gagal berubah karena tidak cukup tertantang oleh lingkungannya; sedang yang berada di habitat yang keras seperti orang Eskimo di daerah kutub tetap tinggal primitive karena budayanya semata-mata untuk mengatasi tantangan lingkungannya yang melemahkan energi mereka yang kreatif. Hanya budaya-budaya dalam lingkungan yang menawarkan kemungkinan yang mencukupi dan tidak merupakan tantangan yang berlebihan yang menpunyai kemungkinan maju kea rah tingkat peradaban yang lebih tinggi.
Aliran posibilisme mempunyai kelemahan sebagai teori ilmiah, karena teori ini kurang mempunyai kekuatan untuk memberikan prediksi dan penjelasan secara umum karena ilmu ini hanya mampu menjelaskan mengapa perkembangan-perkembangan tertentu tidak cepat terjadi pada lingkungan tertentu. Teori ini sama sekali tidak mampu membuat prediksi apakah sesuatu dapat terjadi atau tidak dapat terjadi di bawah suatu keadaan lingkungan yang menggantungkan. Misalnya, kegagalan orang Eskimo untuk bertanam jagung dapat dijelaskan, tetapi aliran posibilisme tidak dapat menjelaskan mengapa orang Inggris lebih banyak yang menjadi pelaut sedangkan orang Tasmania tidak. Jelasnya, perbedaan pada kasus yang akhir itu bukan karena refleksi pengaruh lingkungan tetapi karena adanya tradisi budaya dan pengetahuan teknologi yang berbeda. Dengan ringkas, seperti Daryll Forde simpulkan dalam bukunya “Habitat, Economy, and Society” (1934), “diantara lingkungan fisik dan aktivitas manusia selalu ada terminology tengah, kumpulan dari tujuan dan nilai tertentu, pengetahuan dan kepercayaan: dengan kata lain, pola kebudayaan”.

The Concept Of Cultural Ecology
Meskipun papernya yang pertama diterbitkan pada awal 1930-an, baru pada tahun 1950-an konsep Julian Steward mempunyai pengaruh yang nyata pada antropologi Amerika. Meskipun dia dalam aliran diffusionist, pengalamannya dalam studi lapang diantara orang Indian pemburu dan peramu suku Shoshon di Great Basin di Amerika Utara telah membawanya mengenali bahwa adaptasi ekologi telah memainkan peranan penting sebagai penyebaran formasi budaya Shoshon. Gambaran dari metode teori bahwa para ahli ekologi biologi telah mengembangkan studi adaptasi dari spesies hewan, khusus dikaitkan pada organ tertentu yang berubah karena lingkungan, Steward berusaha untuk menjelaskan aspek struktur tertentu dari budaya Shoshon dalam kaitan sumberdaya yang tersedia dalam habitat semi padang pasir yang miskin. Steward (1938) memberikan kasus yang menyakinkan bahwa rendahnya kepadatan populasi Shoshon, organisasi social yang terdiri dari keluarga-keluarga kecil yang tersebar luas dan pola perumahan yang fleksibel dengan tanpa faham teritori, dan kurangnya pimpinan kuat yang permanent, semua itu merefleksikan ketidakmampuan teknologi Shoshon untuk mendapatkan persediaan pangan yang cukup secara mantap dari sumberdaya yang tersebar dan sporadic dari lingkungan gersang itu.
Pendapat Steward menyatakan bahwa tidak semua aspek budaya Shoshon dapat dijelaskan dalam term ekologi - - banyak cirri yang ada hanya sebagai akibat kebetulan dari penyebaran suku-suku yang bertetangga - - tetapi ada beberapa elemen yang disebutnya sebagai “cultural core”, menunjuk adanya adaptasi. Secara khusus disebutnya, teknologi, ekonomi, populasi, dan organisasi social sepertinya merupakan core budaya itu, meskipun dia menekankan perlunya menunjukkan hal ini pada setiap kasus secara empiri. Ia cenderung memberi tekanan pada adanya hubungan antara teknologi dan lingkungan dalam modelnya tentang ekologi budaya (gb. 3).
Seorang antropolog Amerika Clifford Geertz (1968) telah menerapkan konsep Steward dalam ekologi budaya untuk menjelaskan perbedaan demografi yang besar yang ada antara Jawa dan Luar Jawa. Jawa adalah daerah terpadat di dunia, yang berpenduduk 2.000 orang/km pada beberapa bagian pulau itu. Sebaliknya di pulau lain penduduknya rata-rata hanya 25 orang/km. Geertz menyatakan bahwa variasi penduduk ini merefleksikan adanya adaptasi pertanian yang berbeda yang diterapkan dalam kedua daerah itu, yang berkaitan dengan adanya perbedaan lingkungan (tabel 1).
Konsep Steward tentang ekologi budaya telah terbukti menjadi strategi yang kuat dan efektif dari reset ekologi manusia, yang menawarkan pengertian baru bagaimana masyarakat tradisional beradaptasi secara efektif pada lingkungannya. Sukses ini diperoleh karena terutama pada kajian yang berskala kecil, yaitu masyarakat primitive, khususnya dimana hubungan stabil telah terbentuk diantara populasi yang statis dan lingkungan yang tidak berubah. Konsep itu kurang dapat diterapkan pada masyarakat modern yang kompleks dimana tindakan dari populasi manusia pada umumnya menghasilkan perubahan lingkungan yang cepat dengan konsekwensi dibutuhkannya readaptasi dari core budaya. Sebagaimana diyakinkan oleh Steward dan digunakan oleh yang lain, model ekologi budaya mempunyai kekurangan dalam konseptualisasi yang sistematik dari lingkungan atau dari cara dimana aktivitas manusia bergeseran dengannya. Dengan demikian, tekanannya hampir secara eksklusif pada segi manusianya dari persamaan lingkungan manusia, difokuskan pada adaptasi budaya sementara itu diabaikan perubahan lingkungan sebagai respons dari intervensi manusia.
Kelemahan dasar dari konsep ekologi budaya muncul dalam karya Marvin Harris, seorang antropolog Amerika yang telah memasukkan pendekatan ini dalam studi “techno-environmental determinism”. Aliran ini mempunyai asumsi bahwa makna adaptasi teknologi terhadap lingkungan adalah penggerak utama dari evolusi budaya, Harris menyatakan bahwa bentuk-bentuk yang diambil oleh aspek-aspek budaya yang lain ditentukan oleh hubungan antara teknologi dan lingkungan. Dalam papernya “The Cultural Ecology of India’s Sacred Cattlr” (1956), Harris berpendapat bahwa berlawanan dengan pendapat yang diterima bahwa masyarakat Hindu tetap mempertahankan terus-menerus jumlah ternaknya yang itu tidak memberikan manfaat karena kepercayaan agamanya bahwa ternak itu suci, sebenarnya sapi-sapi ini sangat memberikan kesejahteraan ekonomis bagi petani miskin, menolong mereka untuk memberikan manfaat maximal dari sedikitnya sumberdaya dari lingkungannya. Oleh karena itu dia menyimpulkan, bahwa kepercayaan agama harus disebabkan oleh factor teknologi lingkungan.
Kelemahan besar dari pendapat Harris adalah bahwa sapi-sapi itu memberi manfaat besar bagi orang India karena beberapa hal (sapi jantan untuk sawah dan kotorannya untuk membuat api dan pupuk), sedangkan sapi itu tidak mengganggu pangan manusia. Harris tidak memikirkan bagaimana sapi-sapi itu merusak lingkungan dan mengganggu kehidupan manusia. Harris menyebutkan kasus dilarangnya muslim makan babi adalah karena babi itu sulit beradaptasi dengan lingkungan yang kering yang merupakan kekhasan tanah Arab. Dalam kenyataan, kepercayaan agama itu berlaku dan menyebar pada lingkungan baru dimana aturan itu muncul dan merupakan hal yang tidak secara ekologis rasional. Karena muslim yang ada di Indonesia dan Malaysia juga dilarang makan babi, padahal kawasan itu merupakan habitat yang sesuai dengan babi.
Pada diskusi sebelumnya tentang batasan-batasan konsep dari ecology budaya, reset tentang hubungan manusia dan lingkungan memerlukan kerangka kerja yang memperhatikan secara adekwat pada kemungkinan terjadinya perubahan dan penurunan lingkungan yang terjadi karena aktivitas manusia. Adaptasi budaya tidak dapat dilihat sebagai sesuatu yang statis, yang diperoleh pada awal sejarah kebudayaan dan kemudian tetap tidak berubah seterusnya. Sebaliknya hubungan antara manusia dengan alamnya adalah suatu dinamika dimana baik budaya maupun lingkungan terus-menerus beradaptasi dan readaptasi ketika sesuatu berubah yang merupakan respons terhadap pengaruh yang lain. Ini adalah pengenalan untuk adanya model yang lebih dinamis dari sisi lingkungan dari adanya hubungan yang membawa pada adanya formulasi dari model dasar ekosistem dari ekologi manusia.

The Ecosystem – Based Model Of Human Ecology
Berdasarkan pendekatan terhadap konsep sistem ekologi yang telah diformulasikan oleh para ecologist biologi sesuadah PD II, antropolog Amerika Andrew Vayda dan Roy Rappaport menyatakan bahwa selain mempelajari bagaimana budaya itu diadaptasi pada lingkungan, perhatian harus difokuskan pada hubungan dari populasi manusia tertentu terhadap ekosistem tertentu. Dalam pandangan ini, manusia hanya merupakan populasi yang lain diantara populasi tanaman dan spesies-spesies hewan yang berinteraksi satu sama lain dan juga dengan komponen non-organis dari ekosistem lokalnya. Jadi, ekosistem, bukanya budaya, merupakan unit analisa yang mendasar dalam kerangka kerja konseptual mereka pada ekologi manusia (gb. 4). Ciri-ciri budaya adalah penting sejauh mereka dapat ditunjukkan untuk menyumbang survivalnya populasi dalam konteks ekosistem.
Penelitian Vayda dan Rappaport yang dilaporkan dalam bukunya “Pigs for The Ancestors” menjelaskan hal ini.
Ini merupakan model khusus dari interaksi antara ritual, populasi manusia dan komponen ekosistem yang lain, yang barangkali bukan yang valid yang merupakan refleksi dari pendekatan konseptual yang khusus yang diterapkan, bukan merupakan suatu penolakkan dari pandangan yang lebih mendasar bahwa ritual agam itu dapat menjadi secara ekologis signifikan seperti aspek teknologi dari budaya yang ditekankan oleh Steward.

The Actor-Based Model Of Human Ecology
Dalam menghadapi problem empiri untuk mendefinisikan unit social dari adaptasi ekologis, telah dianjurkan bahwa adaptasi terjadi lebih pada tingkat individu daripada pada tingkat budaya atau populasi. Model dasar pelaku dari ekologi manusia, seperti yang telah ditetapkan oleh Orlove (1980), telah menjadi gelombang baru yang besar dalam ekologi manusia. Model ini merefleksikan baik perhatian umum para antropolog maupun proses pembuatan keputusan secara individual. Pusat perhatian para biolog aliran evolusi menyatakan bahwa seleksi alam bekerja secara eksklusif pada tingkat organisme individual. Dari perspektif ini pada organisasi pada tingkat yang lebih tinggi, apakah itu masyarakat, ekosistem, atau sistem social manusia, hadir hanya sebagai hasil kebetulan diantara banyak organisme individual.
Dalam kasus masyarakat manusia, adaptasi lingkungan terlihat sebagai berlaku bukan sebagai akibat dari seleksi alam dalam social budaya tetapi lebih sebagai hasil keputusan bersama ribuan manusia tentang bagaimana berinteraksi yang terbaik dengan lingkungannya. Individu diasumsikan untul secara tetap membuat pilihan tentang bagaimana mengeksploiter sumberdaya yang tersedia, dan pada waktu yang sama mengatasi bencana yang ada dalam lingkungannya. Siapa yang membuat pilihan dengan benar akan survive dan sejahtera, yang memilih secara salah akan mengalami sebaliknya. Dengan berjalannya waktu, strategi yang lebih adaptif akan dibakukan sebagai norma budaya. Norma-norma itu, sebenarnya tidak lebih dari hasil statistic dari pilihan individual yang tidak mempunyai realitas sendiri dan merupakan konsep biasa dari ilmiawan social (gb. 5).
Sebagai contoh, analisis dasar pelaku dari Tsembaga mungkin menjelaskan siklus ritual dari pembunuhan babi yang dilaporkan oleh Rappaport hanyalah suatu hasil keputusan secara terpisah dari ratusan orang Tsembaga untuk memaksimalkan penggunaan sumberdaya yang terbatas dalam masyarakat itu.
Meskipun model dasar pelaku dari ekologi manusia telah diterapkan secara berhasil dalam menjelaskan pilihan para petani mengenai hubungan dengan lingkungannya, hal itu tergantung pada sejumlah asumsi tentang manusia dan masyarakat. Kenyataan bahwa petani Thai mampu memilih yang mana varietas padi yang menghasilkan paling baik sesuai dengan kondisi lingkungan local tidak dapat diambil sebagai bukti bahwa manusia secara umum atau biasanya membuat pilihan yang benar mengenai interaksinya dengan lingkungannya. Menerapkan model actor – based pada ekologi manusia, pendekatan konseptual Adam Smith dengan asumsi yang implicit bahwa petani secara individual membuat keputusan dalam cara perhitungan ekologis yang rasional. Andrew Vayda dan McCoy, secara khusus memungkiri pendapat teoritisnya yang dulu bahwa adalah populasi local yang beradaptasi pada ekosistemnya, pendapat sekarang adalah bahwa individu dalam masyarakat tradisional pada umumnya membuat keputusan yang benar tentang bagaimana menggunakan sumberdaya alam sedemikian rupa hingga keputusan itu menjadikan hubungan lingkungan yang stabil.
Sementara itu tidak ada antropolog yang ragu-ragu bahwa manusia tradisional mempunyai pengetahuan yang akurat tentang lingkungannya secara detail, yang membuat mereka membuat keputusan yang rasional tentang penggunaan sumberdaya dan bagaimana mengatasi bencana alam, ini harus ada tekanan yang kuat bahwa tidak ada tuntutan yang inheren bahwa akhirnya mesti demikian. Dalam banyak situasi, semacam “the tragedy of the common” yang dideskripsikan oleh Garrit Hardin (1968), efek dari sejumlah keputusan individu, yang semuanya rasional dari segi si actor, yang ternyata merusak kapasitas lingkungan, dengan demikian menurunkan kesejahteraan dari seluruh masyarakat.
Oleh karena individu harus membuat keputusan dalam konteks budaya tertentu, semua pilihan adalah merupakan sistem nilai - - pernyataan yang menentukan yang mana way of life yang dipilihnya. Nilai semacam itu merupakan milik dari sistem social itu, bukan lagi milik actor yang hidup di dalamnya.
Individu dalam masyarakat Tsembaga berusaha mengembangkan jumlah babinya, bukan karena hal itu merupakan strategi adaptasi pada lingkungannya, tetapi karena memiliki babi banyak menaikkan statusnya dalam masyarakatnya. Petani Thai menanam varietas padi tertentu karena dia memperhitungkan hasil terbaik panenannya. Orang Thai tidak membuat pilihan dengan meningkatkan ternak babinya dan orang Tsembaga tidak memilih menanam padi varietas tertentu, karena keputusan-keputusan itu bukan merupakan kerangka kerja dari budaya yang dijunjungnya.
Barangkali saja orang Tsembaga justru menderita karena banyaknya atau sedikitnya babi atau orang Thai menderita karena menanam jenis padi tertentu - - sistem social mengizinkan individu untuk bebas memilih. Mereka mungkin mencoba untuk menuju situasi yang lebih baik, tetapi secara normal mereka tidak memilih untuk menulis peraturan dasar dari aturan mainnya itu karena mereka ditentukan oleh budayanya.

The System Model Of Human Ecology
Perkembangan besar ilmu akhir-akhir ini adalah formulasi dari “general system theory”, yang memusatkan perhatian pada milik umum dari struktur dan fungsi dari sistem, sedemikian rupa, dan bukan kandungan ilmu itu sendiri. Tulisan Emile Durkheim, seorang sosiolog Prancis, “Form of Religious Life” (1915), memberikan dasar dari perkembangan model sistem social yang structural fungsional, yang telah menjadi paradigma antropolog dan sosiolog Amerika dan Inggris.
Struktural-fungsionalisme, mula-mula sebagai teori disampaikan oleh Radcliffe-Brown (1965) dan B. Malinowski (1922), dan secara empiris dikenbangkan oleh E.E. Evans-Pritchard (1940) serta secara khusus oleh Sir Raymond Firth (1936), melihat semua institusi masyarakat yang bermacam-macam sebagian diorganisasikan ke dalam sistem yang terintegrasi, dimana setiap institusi sesuai secara harmonis dengan setiap yang lain, dan dimana perubahan secara komplememter dalam seluruh institusi yang terkait secara fungsional.
Dengan demikian, apa-apa yang kita lihat sebagai sistem yang aneh dalam masyarakat tribal, sekarang kita kenal sebagai sesuatu yang berperan secara fungsional untuk solidaritas masyarakat tribal tersebut.
Problem dari konsep sistem social sebagaimana dikembangkan oleh para fungsionalis social bukan pada pendalilan mereka tentang integrasi diantara komponen yang ada, tetapi pada kegagalan mereka untuk menjadikan sistem itusebagai sistem yang terbuka.
Suatu pendekatan alternatif “system model of human ecology”, mendeskripsikan sistem social ketika mereka berinteraksi dengan sistem ekologi. Adaptasi diasumsikan berlangsung, bukan pada tingkat cirri-ciri budaya yang berlainan atau institusi social - - seperti pada model ekologi budaya - - atau dalam kaitan dengan populasi manusia secara khusus - - seperti pada model dasar ekologi manusia - - atau dalam kaitan pembuat keputusan oleh individu secara khusus - - seperti pada model actor-based dari ekologi manusia - - tetapi pada tingkat sistem sosial yang menyeluruh sebagai sistem.
Gambar 6 adalah diagram yang disederhanakan dari struktur dasar dan hubungan fungsional dalam model sistem ekologi manusia. Model ini menekankan adanya 4 aspek secara berimbang :
  1. Input dari ekosistem ke social sistem – Input ini dapat dalam bentuk arus energi (pangan, mimyak), materi (protein, materi konstruksi), atau informasi (suara, rangsangan yang bisa dilihat).
  2. Input dari sistem sosial ke dalam ekosistem – lagi-lagi, ini dapat mengambil bentuk dari arus energi, materi atau informasi yang berasal dari manusia.
  3. Perubahan dalam institusi yang merubah sistem sosial manjadi primer, seperti apabila meningkatnya tingkat kematian dikarenakan penyakit yang oleh lingkungan ditularkan yang merubah struktur populasi dari masyarakat, atau sebagai sekunder, ketika institusi sistem sosial yang lain berubah sebagai respon dari lingkungan yang berasal dari perubahan primer dari suatu institusi.
  4. Perubahan dalam ekosistem sebagai respon ke input dari sistem social – Ketika masyarakat social berubah sebagai respons dari pengaruh lingkungan, dengan demikian ekosistem berubah sebagai respons terhadap pengaruh manusia. Perubahan demikian bisa merupakan yang primer - - bila pengaruh langsung dari aktivitas manusia dalam komponen ekosistem seperti pembunuhan terhadap spesies hewan tertentu oleh karena perburuan yang melewati batas, atau sekunder, perubahan dalam komponen ekosistem yang lain yang disebabkan karena perubahan antropogenic dalam satu komponen.
Conclusion
Haruslah diberi tekanan bahwa sementara model sistem menyediakan kerangka kerja untuk analisis interaksi manusia dengan lingkungan, ini tidak diniatkan dan tidak pernah digunakan untuk menjadi model reset operational. Yaitu, tidak ada peneliti yang semata-mata menggunakan model ini sebagai dasar untuk membuat deskripsi yang holistic dari interaksi suatu masyarakat tertentu dengan ekosistemnya. Seluruh deskripsi semacam itu akan tidak bermanfaat dan tidak dapat dilakukan dalam praktek pada sistem social dan ekologi baik yang komplek maupun yang sederhana.
Ini bukan merupakan sistem deskripsi demi untuk deskripsi, tetapi lebih merupakan anjuran untuk mulai kerja dengan problem yang khusus sebagai focus reset. Kembali pada contoh terdahulu tentang penebangan hutan di India, seorang dapat bertanya: Mengapa petani India banyak menebang pohon? Seseorang dapat mulai dengan pertanyaan: Bagaimana kesuburan tanah dapat diperbaiki? Atau: Bagaimana suplai air irigasi dapat ditingkatkan? Atau: Seperti apa pengaruh social dan ekologi dalam memperkenalkan generator biogas pada masyarakat kawasan rural? Pilihan dari pertanyaan ini seperti merefleksikan orientasi problem yang sudah ada lebih dulu pada peneliti (mis: ahli hutan akan lebih dahulu berurusan dengan penebangan pohon). Penerapan model sistem sebagai kerangka kerja, mungkin dapat membantunya mendapatkan persepsi bahwa pemecahan bagi problemnya mungkin terletak pada perbatasan dari hutan, yang memerlukan ketetapan dari sumber energi alternative bagi orang desa sebelum penghijauan mungkin dapat dilakukan.
Nilai yang nyata dari ekologi manusia terletak pada bagaimana dapat membantu manusia melihat hubungan yang tidak dikenalnya antara apa yang manusia lakukan dan lingkungan dimana mereka melakukan hal tersebut. Banyak insight yang penting yang telah tersedia, bagaimana manusia berfikir tentang dunia dan tempatnya di dalamnya dapat sangat berubah. Reset sistematik mengenai ekologi manusia sebenarnya baru mulai, dan masih luas sekali daerah yang terabaikan untuk mendapatkan pengertian. Oleh karena itu bidang ini secara intelektual menarik untuk dikerjakan.

“DAMPAK  PERCERAIAN ORANG TUA TERHADAP PERILAKU ANAK” part II

“DAMPAK PERCERAIAN ORANG TUA TERHADAP PERILAKU ANAK” part II


Keluarga merupakan kelompok kecil yang paling penting dan subsistem dari masyaraat luas. Oleh karena itu keluarga merupakan kelompok primer yang sangat erat terbentuk melalui perkawinan untuk menyelenggarakan hal-hal yang berkenaan dengan peran dan status keorangtuaan dan pemeliharaan anak. Dengan demikian jelas bahwa keluarga mempunyai peranan yang sangat yang sangat urgen dalam mentransfer nilai dan norma kepada anak. Proses sosialisasi melalui interaksi sosial dalam keluarga, anak akan mempelajari pola-pola tingkah laku, sikap, keyakinan, cita-cita, dan nilai-nilai yang diharapkan oleh masyarakat sehingga akan menjadi pedoman bagi tingkah lakunya kelak dalam masyarakat. Oleh sebab itu lingkungan yang kondusif dalam membesarkan dan mempersiapkan masa depan anak sangat diperlukan dalam masyarakat.
Keberhasilan keluarga dalam membentuk kepribadian dan tingkah laku anak sangat tergantung pada subyek-subyek dalam keluarga tersebut. Manusia  sebagai subyek yang  terpenting dalam keluarga harus dapat menjalankan peran dan fungsinya sebagai ayah atau ibu dalam memenuhi kebutuhan anak-anak. Tetapi pada kenyataannya keharmonisan dalam keluarga tersebut mengalami disorganisasi, hal ini karena masing-masing anggota keluarga tidak mampu atau gagal dalam menjalankan peran dan fungsinya baik itu pada ayah maupun ibu. Demikian juga yang terjadi adanya konflik dalam keluarga maka keharmonisan dalam keluarga tersebut akan terganggu dan pada akhirnya jalan yang terbaik dalam menyelesaikan masalah tersebut adalah perceraian. Dapat diketahui bahwa Anak korban perceraian sering berperilaku buruk yang tidak wajar misalnya mereka menjadi sangat nakal dan susah diatur bahkan mereka bisa saja mencoba hal-hal yang buruk atau yang tak pantas untuk mereka lakukan, seperti anak mengalami depresi, anak merasa bersalah (quilty feeling), mulai terlibat alkohol dalam hal ini mabuk-mabukan, suka membuat konflik, sering membuat kekacauan diluar rumah, dan stres yang berkepanjangan akibat perceraian kedua orang tuanya, dan lebih ekstrimnya lagi muncul pikiran untuk bunuh diri akibat perceraian kedua orang tuanya. Karena bagi anak perceraian merupakan kehancuran keluarga yang akan mengacaukan kehidupan mereka. Akibat konflik yang terjadi dalam keluarga anak-anak korban perceraian mengalami perubahan dimana nilai-nilai dan norma yang berlaku dalam keluarga mengalami pergeseran yang awalnya hubungan emosional atau hubungan cinta kasih antara orang tua dan anak-anak sangat baik dan harmonis kini mulai mengalami perubahan atau pergeseran  akibat perceraian kedua orang tua mereka.

Riset-riset terdahulu:
1.       Irma Gustiana Andriani, M. Psi, dalam penelitiannya tentang  Mental Anak Korban Perceraian.
Irma Gustiana menemukan bahwa umumnya anak-anak yang mengalami perpisahan orangtua akan mengalami masalah kecemasan, murung, pemarah, kurang percaya diri, masalah perilaku seperti mengompol kembali, agresivitas dan juga penurunan prestasi belajar.  Apalagi anak laki-laki biasanya membutuhkan figur ayah untuk membantunya lebih siap dalam menghadapi perubahan yang terjadi. Yang dapat dilakukan oleh kedua orangtua adalah (1) Pastikan pada mereka bahwa perceraian yang terjadi bukanlah kesalahan mereka, misalnya si kakak menganggap kedua orangtua berpisah karena ia anak yang nakal.
(2) Janganlah saling mengucapkan kata-kata penghinaan atau membicarakan hal-hal negatif tentang salah satu orangtunya pada anak.  (3) Memberikan aktivitas yang bersifat menyenangkan pada anak-anak sehingga mereka pelan-pelan akan melupakan pengalaman traumatis yang dialami dan jika perlu konseling dengan pakar psikologi diperlukan untuk mengevaluasi perkembangannya.
2. Retno Wijayanti dalam penelitiannya tentang PENGARUH PERCERAIAN PADA ANAK
Anak-anak adalah sebagai individu yang cepat mengerti suasana hati dan emosi yang berbeda seperti orang dewasa. Pada kenyataannya, hal ini sering kali terjadi. Karena ini adalah fase ketika pola pikir dan perilaku psikologis mereka masih dapat dibentuk, episode menyedihkan tertentu seperti perceraian orang tua cenderung berdampak negatif. Perlu diingat bahwa perceraian dapat mempengaruhi anak-anak berbeda tergantung pada usia mereka, jenis kelamin dan aspek-aspek lain seperti itu. Dalam banyak kasus ketika tidak cenderung hati-hati, kenangan tersebut mendapatkan tertanam dalam jiwa mereka menghambat pertumbuhan yang tepat dari kepribadian mereka dalam jangka panjang. Artikel ini terutama berfokus pada dampak perceraian terhadap anak-anak.
Dalam penelitiannya ia menemukan bahwa:
·         Beberapa anak khawatir bahwa orangtua mereka bercerai tidak mencintai mereka lagi dan dengan demikian, mulai merasa kesepian.
·         Tentang orang tua yang telah meninggalkan anak-anak merasa bahwa ia tidak hanya menceraikan pasangan, tetapi juga dirinya (anak-anak).
·         Mereka merasa tak berdaya dan tak dapat melakukan apa saja untuk mendapatkan kedua orang tua mereka bersama-sama.
·         Bahkan meskipun anak-anak tidak dapat menunjukkan atau mengekspresikan kemarahan, mereka cenderung merasa marah atas insiden seluruh perceraian orangtua.
·         Banyak kali, anak-anak akhirnya berpikir bahwa mereka bersalah. Banyak dari mereka mulai berpikir bahwa itu adalah karena sesuatu yang mereka lakukan atau katakan yang membuat orangtua pergi.
·         Anak-anak berduka. Perceraian menciptakan rasa kehilangan dalam kehidupan anak-anak dan orang tua bercerai. Jadi anak-anak juga mengalami fase berduka sangat mirip dengan satu kematian berkabung.
·         Mereka menjalani konflik mental kesetiaan terhadap kedua orang tua.
·         Perilaku yang merugikan Akibat dari perceraian di anak-anak mungkin sangat ringan seperti gangguan tidur atau bahkan sangat berbahaya seperti kecenderungan bunuh diri, penyalahgunaan obat atau kekerasan.
·         Beberapa akibat buruk lain dari perceraian dalam perilaku anak-anak dapatkan masalah di sekolah, gugup, mengompol, ketakutan, dll
·         Anak-anak bisa berubah semakin lengket dan cengeng.
·          Beberapa bahkan mungkin merasa bahwa mereka harus ‘mengurus’ orang tua mereka.

3.  M.M. Nilam Widyarini, MSi, Dosen Psikologi Derita Anak Korban Perceraian
Anak-anak yang orangtuanya bercerai menampakkan beberapa gejala fisik dan stres akibat perceraian tersebut seperti insomnia (sulit tidur), kehilangan nafsu makan, dan beberapa penyakit kulit. Riset menunjukkan, setelah kira-kira dua tahun mengalami masa sulit dengan perceraian orangtuanya, sampailah anak-anak tersebut ke masa keseimbangan atau masa equilibrium. Di masa itu, kesusahan dan penderitaan akut yang mereka alami sejak terjadinya perceraian mulai berkurang.
Anak-anak telah belajar menyesuaikan diri dan melanjutkan kehidupan mereka. Namun, perceraian orangtua tetap menorehkan luka batin yang menyakitkan bagi mereka. Selain beberapa dampak di atas, dalam beberapa kasus terjadi anak yang orangtuanya bercerai, pada saat dewasa, menjadi takut untuk menikah. Dia khawatir perkawinannya nanti akan mengalami nasib yang sama seperti orangtuanya. Kasus yang lain, anak yang orangtuanya bercerai, pada saat dewasa jadi membenci laki-laki atau perempuan karena menganggapnya sama dengan ayah atau ibunya yang telah menghancurkan keluarganya.
Sangat sulit menemukan cara agar anak-anak merasa terbantu dalam menghadapi masa-masa sulit karena perceraian orangtuanya. Sekalipun ayah atau ibu berusaha memberikan yang terbaik yang mereka bisa,segala yang baik tersebut tetap tidak dapat menghilangkan kegundahan hati anak-anaknya.
Beberapa psikolog menyatakan bahwa bantuan yang paling penting yang dapat diberikan oleh orangtua yang bercerai adalah mencoba menenteramkan hati dan meyakinkan anak-anak bahwa mereka tidak bersalah. Yakinkan bahwa mereka tidak perlu merasa harus ikut bertanggung jawab atas perceraian orangtuanya.
Hal lain yang perlu dilakukan oleh orangtua yang akan bercerai adalah membantu anak-anak untuk menyesuaikan diri dengan tetap menjalankan kegiatan-kegiatan rutin di rumah. Jangan memaksa anak-anak untuk memihak salah satu pihak yang sedang cekcok serta jangan sekali-sekali melibatkan mereka dalam proses perceraian tersebut.
Hal lain yang dapat membantu anak-anak adalah mencarikan orang dewasa lain seperti tante atau paman, yang untuk sementara dapat mengisi kekosongan hati mereka setelah ditinggal ayah atau ibunya. Maksudnya, supaya anak-anak merasa mendapatkan topangan yang memperkuat mereka dalam mencari figur pengganti ayah ibu yang tidak lagi hadir seperti ketika belum ada perceraian.


4.      Dicka Martyastanti dalam penelitiannya tentang PENYESUAIAN DIRI DALAM PERNIKAHAN PADA PASANGAN YANG DIJODOHKAN
Menikah merupakan saat yang penting bagi siklus kehidupan manusia. Seperti halnya sebuah baju, pernikahan mempunyai tren mode yang terus berubah. Pada masa lalu orang mengenal kisah Siti Nurbaya suatu penggambaran perjodohan yang umum dilakukan. Tetapi sekarang, mungkin orang akan mencibir jika ada orang tua yang menjodohkan anak-anaknya karena sekarang tren telah berubah. Remaja sekarang umumnya melalui masa pacaran terlebih dahulu sebelum memasuki jenjang pernikahan.
Ada beberapa hal yang membuat perjodohan menjadi tidak populer lagi. Konsep menikahi seseorang yang tidak (belum) kita cintai bahkan asing adalah sesuatu yang sulit diterima sebagian besar orang sekarang ini, tetapi ada pendapat yang menentang dengan alasan cinta bisa tumbuh karena terbiasa. Pernikahan atas dasar cinta pun belum tentu sukses karena cinta bisa mati seiring dengan waktu, walaupun di awal pernikahan begitu menggebu-gebu. Di sisi lain, orang bisa beralasan bahwa sifat dan visi bisa berubah sepanjang hidup sehingga yang terpenting adalah berdasarkan pada iman yang sama.
sering dilaporkan oleh pasangan suami-istri yang akan bercerai adalah adanya perselisihan yang terus menerus antara pasangan suami-istri (48.8%). Perselisihan antara pasangan suami-istri merupakan permasalahan yang terkait dengan penyesuaian perkawinan (Wahyuningsih, 2005).
Dyer (dalam Wahyuningsih 2005), menyatakan bahwa banyak literature mengenai penyesuaian diri dalam perkawinan yang dikaitkan dengan kebahagiaan atau kepuasan perkawinan. Orang yang merasa puas dengan perkawinannya dikatakan memiliki penyesuaian yang baik, sedang orang yang merasa tidak puas dengan perkawinannya dikatakan memiliki penyesuaian diri yang buruk.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa aspek-aspek kecerdasan emosional yaitu kemampuan mengenali emosi diri, kemampuan mengelola emosi, kemampuan memotivasi diri, kemampuan berempati dan kemampuan membina hubungan memiliki hubungan dengan penyesuaian perkawinan. Sebelum individu memutuskan untuk menikahi calon pasangannya, sebaiknya individu tersebut mengenali pola-pola kepribadian, temperamen/watak, minat-minat, nilai-nilai dan jalan hidup calon pasangannya (Ardhianita & Andayani, 2005).



5.      Supadi dalam penelitiannya tentang TINGKAT KESADARAN HUKUM TENTANG PERCERAIAN BAGI ISTERI (Studi Kasus tentang Cerai Gugat di Kecamatan Tengaran Tahun 2005)

Perkawinan merupakan hal yang sakral dan diagungkan oleh keluarga yang melaksanakannya. Perkawinan merupakan perpaduan instink manusiawi antara laki-laki dan perempuan di mana bukan sekedar memenuhi kebutuhan jasmani, lebih tegasnya perkawinan adalah suatu perkataan untuk menghalalkan hubungan kelamin antara laki-laki dan perempuan, dalam rangka mewujudkan kebahagiaan berkeluarga yang diliputi rasa ketentraman serta kasih sayang dengan cara diridhoi oleh Allah SWT.
Kehidupan berkeluarga tidak selalu harmonis yang diangankan, pada kehidupan kenyataan. Bahwa memelihara, kelestarian dan keseimbangan hidup bersama suami isteri bukanlah perkara yang mudah dilaksanakan. Bahkan banyak di dalam hal kasih sayang dan kehidupan harmonis antara suami isteri itu tidak dapat diwujudkan. Kadangkala pihak isteri tidak mampu menanggulangi kesulitankesulitan tersebut, sehingga perkawinan yang didambakan tidak tercapai dan berakhir dengan perceraian
Dalam penelitian ini Supadi menyimpulkan hawa:
1. Perceraian menurut pandangan hukum Islam merupakan perbuatan yang halal tetapi dibenci Allah. Hal ini disebabkan karena perceraian bertentangan dengan tujuan pernikahan, ialah untuk membentuk rumah tangga yang bahagia selamanya. Dan lagi perceraian itu mempunyai dampak negatif terhadap bekas suami isteri, karena itu perceraian hanya diizinkan kalau dalam keadaan terpaksa.
2. Masyarakat Kecamatan Tengaran dalam melakukan cerai gugat didorong beberapa faktor, diantaranya suami tidak bertanggung jawab baik ekonomi, meninggalkan kewajiban, poligami tidak sehat, penganiayaan, dan gangguan pihak ketiga yang tidak diharapkan dan suami mengalami krisis moral.
3. Kesadaran hukum tentang perceraian bagi isteri di kecamatan Tengaran adalah baik,dengan prosentase 84,6%.Hal ini isteri mengetahui makna dalam rumah tangga, mengetahui tentang kewajiban sebagai isteri, hal ini sesuai apa yang menjadi pemahaman terhadap hukum. Di dalam 77 pengetahuan hukum isteri mengehaui proses pencarian sesuai apa yang menjadi pengetahuan hal ini dapat di lihat bahwa isteri mengetahui pengadilan menerima cerai gugat, mengetahui tata cara pendaftaran, proses dan juga isteri berlaku sesuai dengan hukum hal ini di dalam melakukan perceraian.
DAMPAK PERCERAIAN ORANG TUA TERHADAP PERILAKU ANAK

DAMPAK PERCERAIAN ORANG TUA TERHADAP PERILAKU ANAK

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Keluarga merupakan kelompok kecil yang paling penting dan subsistem dari masyaraat luas. Oleh karena itu keluarga merupakan kelompok primer yang sangat erat terbentuk melalui perkawinan untuk menyelenggarakan hal-hal yang berkenaan dengan peran dan status keorangtuaan dan pemeliharaan anak. Dengan demikian jelas bahwa keluarga mempunyai peranan yang sangat yang sangat urgen dalam mentransfer nilai dan norma kepada anak. Proses sosialisasi melalui interaksi sosial dalam keluarga, anak akan mempelajari pola-pola tngkah laku, sikap, keyakinan, cita-cita, dan nilai-nilai yang diharapkan oleh masyarakat sehingga akan menjadi pedoman bagi tingkah lakunya kelak dalam masyarakat. Oleh sebab itu lingkungan yang kondusif dalam membesarkan dan mempersiapkan masa depan anak sangat diperlukan dalam masyarakat (Tanof 2010 : 7).
1
 
1
 
Keberhasilan keluarga dalam membentuk kepribadian dan tingkah laku anak sangat tergantung pada subyek-subyek dalam keluarga tersebut. Manusia  sebagai subyek yang  terpenting dalam keluarga harus dapat menjalankan peran dan fungsinya sebagai ayah atau ibu dalam memenuhi kebutuhan anak-anak. Tetapi pada kenyataannya keharmonisan dalam keluarga tersebut mengalami disorganisasi, hal ini karena masing-masing anggota keluarga tidak mampu atau gagal dalam menjalankan peran dan fungsinya baik itu pada ayah maupun ibu. Demikian juga yang terjadi di kelurahan pasir panjang karena adanya konflik dalam keluarga maka keharmonisan dalam keluarga tersebut akan terganggu dan pada akhirnya jalan yang terbaik dalam menyelesaikan masalah tersebut adalah perceraian. Dapat diketahui bahwa Anak korban perceraian sering berperilaku buruk yang tidak wajar misalnya mereka menjadi sangat nakal dan susah diatur bahkan mereka bisa saja mencoba hal-hal yang buruk atau yang tak pantas untuk mereka lakukan, seperti anak mengalami depresi, anak merasa bersalah (quilty feeling), mulai terlibat alkohol dalam hal ini mabuk-mabukan, suka membuat konflik, sering membuat kekacauan diluar, dan stres yang berkepanjangan akibat perceraian kedua orang tuanya, dan lebih ekstrimnya lagi muncul pikiran untuk bunuh diri akibat perceraian kedua orang tuanya. Karena bagi anak perceraian merupakan kehancuran keluarga yang akan mengacaukan kehidupan mereka. Akibat konflik yang terjadi dalam keluarga anak-anak korban perceraian mengalami perubahan dimana nilai-nilai dan norma yang berlaku dalam keluarga mengalami pergeseran yang awalnya hubungan emosional atau hubungan cinta kasih antara orang tua dan anak-anak sangat baik dan harmonis kini mulai mengalami perubahan atau pergeseran  akibat perceraian kedua orang tua mereka. (Tanof 2010 : 8).
Dari pengamatan dilokasi penelitian terlihat bahwa keadaan  atau situasi keluarga dilokasi penelitian sangat  memprihatinkan, terlihat banyak perubahan terutama pada anak-anaknya. Fakta yang terlihat bahwa banyak perubahan perilaku pada anak-anak dimana setelah adanya perceraian mereka sering berbuat konflik dan kekacauan diluar. Orang tua merupakan kunci pembentukan kepribadian anak, karena tidak ada pihak lain yang akan menggantikan peran orang tua dengan seutuhnya. Pada hakekatnya, orang tua mempunyai harapan yang besar agar anak-anak mereka tumbuh dengan baik. Namun gambaran tersebut hanya akan berlangsung pada saat keluarga itu masih utuh, yaitu bagaimana tata cara dan sikap hidup orang tua itu sendiri dan juga apabila hubungan pernikahan merupakan kesatuan, yang satu menjadi bagian dari yang lainnya, dan selalu melindungi bagi yang satunya. Tetapi karena adanya disorganisasi keluarga maka keluarga tidak akan luput dari koflik-konflik kecil. Hal ini akan mengganggu keseimbangan dan membahayakan kehidupan keluarga, tak jarang konflik-konflik tersebut berakhir dengan perceraian. Ketegangan antara ayah dan ibu akan mengakibatkan anak-anak merasa tidak mendapatkan perlindungan dan kasih saying. Rumah tangga yang tidak stabil akan menyebabkan anak-anak bingung dan tidak tahu harus memihak pada siapa. Beberapa tahun yang lalu mungkin fenomena perceraian lebih banyak terdapat dikota-kota besar, namun ketika zaman mulai berubah kearah yang lebih modern, fenomena perceraian dapat kita temui di sekitar kita, termasuk di kota kupang yaitu di kelurahan pasir panjang kecamatan kota lama kota kupang.
Berdasarkan hasil pengamatan ditemukan beberapa orang tua (ibu) yang harus membesarkan anak-anaknya sendiri, Karena adanya perceraian. Dari pengamatan dilokasi terlihat banwa yang menjadi pemicu adanya perceraian yaitu oleh karena adanya faktor intern dan faktor esktern keluarga. Kegagalan keluarga dalam menjalankan peran sosial dan fungsinya terutama dalam proses kebutuhan anak akan berdampak negatif pada pertumbuhan fisik dan perkembangan mental dan sosial anak, dimana anak-anak setelah perceraian kedua orang tuanya mengalami perubahan yang sangat fatal.
 Hal inilah yang mendorong Penulis untuk melakukan penelitian dengan judul “DAMPAK  PERCERAIAN ORANG TUA TERHADAP PERILAKU ANAK,  DI KELURAHAN PASIR PANJANG,  KECAMATAN KOTA LAMA,  KOTA KUPANG
B.     Rumusan Masalah
Kasus perceraian yang terjadi di Kelurahan Pasir Panjang membawa dampak negatif terhadap perilaku anak dimana berdasarkan pengamatan awal dilapangan terlihat bahwa perilaku anak mengalami depresi, mulai terlibat alkohol dalam hal ini mabuk-mabukan, suka membuat konflik, sering membuat kekacauan diluar, dan stres yang berkepanjangan akibat perceraian kedua orang tuanya, dan lebih ekstrimnya lagi muncul pikiran untuk bunuh diri akibat perceraian kedua orang tuanya. Disini dapat dilihat bahwa terjadi banyak perubahan bergesernya nilai dan norma pada perilaku anak, hilangnya kasih sayang, hilang hidup tenteram, terputusnya hubungan emosional antara orang tua dan anak. Berdasarkan uraian pada latar belakang di atas yang menjadi masalah pokok dalam penelitian ini adalah Bagaimanakah Dampak Perceraian Orang Tua Terhadap Perilaku Anak, Di Kelurahan Pasir Panjang, Kecamatan Kota Lama, Kota Kupang”.
C.    Tujuan dan Kegunaan Penelitian
  1. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah:
1.      Untuk mengetahui dan mengidentifikasi faktor-faktor pemicu terjadinya Perceraian orang tua terhadap perilaku anak di Kelurahan Pasir Panjang, Kecamatan Kota Lama, Kota Kupang.
2.      Untuk  mengidentifikasi  dan mendeskripsi dampak perceraian orang tua terhadap perilaku anak di Kelurahan Pasir Panjang, Kecamatan Kota Lama, Kota Kupang.
3.      Untuk mengetahui solusi dalam menangani dampak perceraian orang tua terhadap perilaku anak di kelurahan Pasir Panjang, Kecamatan Kota Lama, Kota Kupang.
  1. Kegunaan
Adapun kegunaan dari penelitian ini adalah :
1.        Sebagai bahan informasi bagi pihak-pihak lain yang ingin mengadakan penelitian lebih lanjut, terutama yang berkaitan dengan masalah dampak perceraian terhadap perilaku anak.
2.        Sebagai informasi bagi kalangan pemerintah dan masyarakat terdekat serta pemerhati masalah-masalah sosial kemasyarakatan, lembaga swadaya masyarakat dalam upaya menangani kasus perceraian yang marak terjadi.
3.      Sebagai bahan dokumen bagi almamater tercinta guna melakukan penelitian lanjutan tentang masalah perceraian.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.    Penjelasan Konsep
1.    Perkawinan
Perkawinan merupakan salah satu momen yang paling penting dan sangat mendasar dalam kehidupan manusia dalam membentuk suatu keluarga. Perkawinan selalu dijunjung tinggi dalam masyarakat, hal ini merupakan wujud pengakuan  bahwa semua orang menerima dan mengakui mereka sebagai suami dan istri untuk menjaga agar hubungan tetap harmonis, maka dibuatlah Undang-undang tentang perkawinan, yang mendefinisikan perkawinan sebagai ‘ Ikatan lahir batin antara seorang pria dan wanita sebagai suami istri dengan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa”. Undang-undang tentang perkawinan bertujuan untuk mengatur pergaulan hidup yang sempurna, bahagia dan kekal dalam suatu rumah tangga guna terciptanya kasih sayang dan saling mencintai. Hal ini dapat disimpulkan bahwa pada kalangan pemerintah menantang keras adanya perceraian apalagi pada kalangan agama.
6
 
Namun pada kenyataanya keluarga tersebut mengalami disorganisasi dimana terpecahnya suatu unit keluarga, terputusnya atau retaknya struktur peran sosial, dimana keluarga gagal menjalankan kewajiban dan tanggung jawabnya sesuai dengan peran dan status sosialnya. Dari sinilah muncul berbagai disorganisasi keluarga seperti; perselingkuhan karena disebabkan oleh faktor intern, dan faktor ekstern. (Tanof (2010 : 10)
Pada hakekatnya perkawinan di mulai apabila ada kesepakatan antara kedua keluarga dari masing-masing mempelai. Oleh karena itu, perkawinan merupakan suatu ikatan persekutuan hidup yang mempunyai bentuk, dan tujuan antara anggota yang khusus. Ia merupakan lingkungan hidup yang khas, dan lingkungan hidup itu suami dan istri dapat mencapai kesempurnaan hidup atau kepenuhannya sebagai manusia.
Perkawinan juga untuk membentuk suatu rumah tangga dimana keluarga dalam rumah tangga dapat terlaksana secara damai dan tenteram serta kekal dengan di sertai rasa kasih sayang antara suami istri.
Dengan terjadinya perkawinan maka timbulah sebuah keluarga yang merupakan inti dari pada hidup bermasyarakat, sehingga di harapkan timbulnya suatu kehidupan masyarakat yang teratur edan berada dalam suasana damai.
Menurut Paulus II (1983 : 303) memberikan defenisi mengenai pekawinan yang merupakan suatu perjanjian. Di katakan demikian karena perjanjian adalah dasar untuk membentuk kebersamaan hidup antara seorang pria dan wanita.
Pada uraian diatas maka disimpulkan bahwa perkawinan merupakan perjanjian antara seorang laki-laki dan seorang perempuan dalam membentuk kebersamaan hidup serta mengikat cinta diantara mereka untuk menjadi suami istri dalam menjalankan ikatan dan kewajiban mereka sebagai makhluk Tuhan.
2.    Keluarga
Keluarga merupakan lingkungan sosial pertama bagi anak yang memberi dasar perilaku perkembangan sikap dan nilai kehidupan dari keluarga. Peran orang tua sesuai dengan fungsi dan ststusnya dalam keluarga yaitu suami/ayah sebagai pencari nafkah utama untuk kelangsungan hidup anggota keluarga dan istri/ibu berperan sebagai pemberi cinta, dan kasih saying untuk mengitegrasikan atau menciptakan suasana harmonis dalam keluarga. Keluarga terorganisasi dengan sempurna apabila orang tua dapat menjalankan peran dan fungsinya dengan baik sesuai dengan norma dan nilai yang dianut keluarga dalam masyarakat. Orang tua diharapkan untuk membantu anaknya dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya untuk mengatasi masalah secara realistis dan simpati. Oleh karena itu, keluarga sebagai tempat untuk mengondisikan pemberian nilai positif pada anak.
Menurut Goode (1995 : 39 ) ia mengatakan bahwa keluarga merupakan satu-satunya lembaga sosial disamping agama yang secara resmi telah berkembang di masyarakat.
Namun sayangnya, keluarga sering kali menjadi sumber konflik terjadi kekacauan dalam keluarga atau retaknya peran struktur sosial, orang tua gagal menjalankan kewajiban peran dan tanggung jawabnya untuk memelihara hubungan dalam keluarga. Peran ayah sebagai pencari nafkah dan ibu sebagai pemberi cinta gagal memberikan perlindungan dan kasih sayang baik dari aspek sosial, spiritual kepada anak-anak sehingga anak bertingkah laku berdasarkan karakteristik individu bukan berdasarkan status sosial yang dipegangnya baik dalam keluarga maupun masyarakat.   Bagi sejumlah orang suasana keluarga yang tidak harmonis sering mendorong terjadinya konflik antara kedua orang tua. Belakangan ini sering kita jumpai kasus perceraian di lingkungan maupun melalui pemberitaan media massa. Perceraian dalam keluarga manapun merupakan peralihan besar dan penyesuaian terutama pada anak. Anak akan mengalami reaksi emosi karena kehilangan salah satu orang tua.
Soekanto (2002 : 183) mengartikan keluarga sebagai dua orang atau lebih yang hidup bersama, yang mempunyai hubungan darah, perkawinan atau pengangkatan.
Keluarga merupakan satu-satunya lembaga sosial, yang secara resmi telah berkembang di semua masyarakat, dan hampir setiap orang dilahirkan dalam keluarga dan juga membentuk keluarganya sendiri. Membentuk keluarga merupakan keinginan yang normal pada setiap manusia, karena perkawinan merupakan mekanisme survival (cara mempertahankan hidup). Melalui perkawinan akan memperoleh keturunan yang kemudian menjadi manusia-manusia baru yang akan mempertahankan  kehadiran di dunia dan akan hidup dalam kelompok-kelompok masyarakat. Peran dan tanggung jawab keluarga selalu mempunyai fungsinya masing-masing dalam mengatur keharmonisan keluarganya. Di samping itu keluarga merupakan penopang utama struktur sosial yang luas.
Dalam meneruskan contoh peran dan tingkah laku kepada generasi berikut, fungsi utama keluarga sebagai saluran penerus yang tetap menghidupkan dan berperan, karena keluarga tidak saja dilihat dari aspek biologis yang diidentikan dengan adanya pernikahan antara seorang pria dan wanita sebagai sepasang suami istri, tetapi lebih jauh lagi keluarga sebagai inti dasar dalam pembentukan masyarakat luas.
Menurut. Hardawiriyana (1993 :7) dikatakan bahwa keluarga merupakan media pendidikan untuk memperkaya kemanusiaan, supaya keluarga  mempunyai kepenuhan hidup dan diperlukan kerja sama orang tua dalam mendidik anak-anak. Keluarga terdiri dari pribadi-pribadi (ayah, ibu, dan anak) yang merupakan jaringan sosial yang sangat besar. Hanya melalui keluargalah masyarakat dapat memperoleh dukungan dimana fungsi keluarga sebagai pengantara atau jembatan terhadap masyarakat dalam system sosial yang luas. Pengertian lain mengatakan keluarga merupakan konsep sosial yang dicirikan oleh adanya tempat tinggal bersama, kerja sama dalam menghasilkan keturunan (reproduksi). Dalam pengertian ini sudah mencakup jenis kelamin kedua orang dewasa sekurang-kurangnya terdapat dua orang yang memelihara hubungan seksual yang secara hukum dan agama di akui.
Menurut Tunggal (2003 : 5) keluarga merupakan unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak, atau saudara dalam garis lurus ke atas atau ke bawah sampai derajat yang selanjutnya. Dalam kamus sosiologi keluarga dapat di artikan sebagai orang yang ada  hubungan darah atau perkawinan, dan orang-orang tersebut adalah bapak, ibu, dan anak.
Menurut soejono soekanto (1992 : 112) dalam bukunya kamus sosiologi mengatakan bahwa keluarga adalah dua orang atau lebih yang hidup bersama, mempunyai hubungan darah, perkawinan atau pengangkatan yang sama.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa keluarga merupakan unik terkecil didalam masyarakat yang seharusnya hubungan antar individu dalam keluarga tersebut harus dijaga agar tidak terjadi disorganisai dalam keluarga agar keluarga tetap utuh untuk selamanya.   
3.    Fungsi Keluarga
Menurut Friedman (1998 : 4) fungsi keluarga jika ditinjau dari :
-       Fungsi  biologis yaitu untuk meneruskan keturunan, memelihara dan membesarkan anak, memenuhi kebutuhan keluarga.
-       Fungsi Psikologis yaitu memberikan kasih sayang dan rasa aman terhadap anak dan keluarga, memberikan perhatian di antara anggota keluarga, membina kedewasaan kepribadian anggota  keluarga, dan memberikan identitas keluarga.
-       Fungsi sosialisasi yaitu membina sosialisasi anak, membina norma-norma tingkah laku perkembangan anak, meneruskan nilai-nilai keluarga.
-       Fungsi ekonomi yaitu mencari sumber-sumber pengahasilan keluarga untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
-       Fungsi pendidikan yaitu menyekolahkan anak untuk memberikan pengetahuan, keteramplilan, dan membentuk perilaku anak sesuai dengan bakat dan minat yang di miliki, mempersiapkan anak untuk kehidupan dewasa yang akan datang dalam memenuhi perannya sebagai orang dewasa, dan mendidik anak sesuai dengan tingkat perkembangannya.
Fungsi keluarga tidak semata-mata dalam rangka sosialisasi anak tetapi juga melaksanakan beberapa fungsi lainnya : fungsi reproduksi, fungsi kasih sayang, fungsi sosialisasi, fungsi ekonomi, fungsi pendidikan. Dari beberapa fungsi ini dapat dikelompokan dalam tiga hal yaitu : kebutuhan dasar (basic needs), kebutuhan pengembangan (developmentalneeds), dan kebutuhan sosial psikologis (social psychology needs).
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa fungsi dalam keluarga itu sangat penting dalam memberikan sosialisasi maupun pengetahuan terhadap anak-anak. Agar pada  saat anak-anak dewasa nanti mereka bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.
4.    Perceraian
Perceraian merupakan masalah yang sangat kompleks. Perceraian tidak hanya melukai pasangan yang bercerai saja, namun juga anak dari hasil pernikahan. Perceraian atau perpisahan dapat di tafsirkan sebagai pecahnya suatu unit keluarga dan terputusnya struktur dan peran keluarga. Terputusnya peran keluarga di sebabkan oleh karena salah satu/kedua pasangan memutuskan untuk saling meninggalkan dan dengan demikian mereka berhenti melaksanakan perannya.
Menurut pandangan William (2002 : 8) menyatakan bahwa orang bisa hidup lebih bahagia setelah bercerai, dan perceraian itu bukan akhir dari kehidupan suami istri. Namun orang tua yang bercerai harus tetap memikirkan bagaimana membantu anak mengatasi penderitaan akibat perceraian tersebut.
Menurut Goode (1995 : 185) ia mengatakan bahwa perceraian di pandang sebagai satu kesialan bagi seseorang/kedua pasangan tersebut di masyarakat manapun. Walaupun ada beberapa kalangan yang menganggap bahwa perceraian itu hal yang biasa, akan tetapi hal itu menunjukan adanya derajat  pertentangan antara suami istri untuk memutuskan ikatan yang semula mengikat kedua turunan keluarga. Hal itu mengakibatkan pula persoalan penyesuaian diri yang sulit bagi orang tua dan anak-anak yang bersangkutan karena itu sekalipun pada masyarakat yang memiliki  angka perceraian yang tinggi, tidak ada  yang menyetujui tentang perceraian dalam keluarga, sebaliknya berbagai macam prosedur dan mekanisme peraturan di buat untuk menekan angka perceraian.
Peristiwa perceraian menimbulkan berbagai akibat terhadap orang tua dan anak. Tercipta sebagai orang tua mereka tidak lagi memperlihatkan tanggung jawab penuh dalam mengasuh anak.orang tua menjadi kurang dekat dengan anaknya, meski banyak waktu yang tersedia. Orang tua menjadi tidak tegas dalam melatih anaknya bersikap tanggung jawab. Keadaan itu jauh berbeda dengan keluarga utuh yang orang tuanya bersikap tegas dalam mendewasakan anaknya. Perceraian bukan hanya menyakiti pasangan baik suami maupun isteri saja tetapi juga pada anak, akibat perceraian bukan hanya dipicu oleh faktor eksternal tetapi juga dipicu oleh faktor internal yang salah satunya adalah masalah KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga) dimana dalam sebuah keluarga Suami-Istri mempunyai pendapat yang berbeda, suami berpendapat Kekerasan Dalam Rumah Tangga adalah tindakan yang sifatnya fisikal saja sedangkan istri menilai termasuk juga tindakan yang sifatnya non fisikal yang mengakibatkan penderitaan bagi orang lain, Suami-Istri dalam rumah tangganya mengalami lebih dari satu jenis dan bentuk kekerasan antara lain kekerasan seksual, fisik, psikologis dan ekonomi, Faktor-faktor penyebab kekerasan dalam rumah tangganya adalah kondisi kepribadian dan psikologis suami istri yang tidak stabil, kemandirian ekonomi istri, perselingkuhan, masalah anak, cemburu dan campur tangan orang ketiga. http://fileskripsilengkap.blogspot.com/2007/11/gender_24.html  20:40.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa masyarakat atau lebih tepatnya keluarga yang melakukan perceraian mengganggap dengan adanya perceraian akan menguragi beban mereka dalam keluarga, namun pada kenyataannya fakta yang kita lihat bahwa perceraian yang dilakukan oleh orang tua sangat membawa dampak mendalam pada perilaku anak.


5.    Perilaku
Perilaku pada hakekatnya merupakan suatu sikap atau aktivitas dari manusia itu sendiri yang mempunyai bentangan yang sangat luas misalnya berjalan, berbicara, menangis dan menulis. Individu memandang dirinya akan tampak jelas dari seluruh perilakunya. Dengan kata lain perilaku seseorang akan sesuai dengan cara individu memandang dan menilai dirinya sendiri. Apabila individu memandang individu itu akan menampakan perilaku sukses dalam tugasnya, sebaliknya apabila individu memandang dirinya sebagai seseorang yang kurang memiliki kemampuan melaksanakan tugas, maka individu itu akan menunjukan ketidakmampuan dalam perilakunya.
Menurut Notoatmodjo (2005 : 43 - 44) perilaku merupakan respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus (rangsangan dari luar). Perilaku merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus atau objek. Sikap tidak secara langsung dilihat, tetapi hanya ditafsirkan terlebih dahulu dari perilaku seseorang.
6.    Anak
Anak  merupakan makluk sosial seperti juga orang dewasa. Anak membutuhkan orang lain untuk dapat membantu mengembangkan kemampuannya, karena anak lahir dari segala kelemahan sehingga tanpa orang lain tidak mungkin dapat mencapai taraf kemanusiaan yang normal.
Menurut Tanof (2010 : 11) mengatakan bahwa anak adalah individu yang berusia 0 sampai dengan 21 tahun dan belum menikah. Hal ini berdasarkan pertimbangan kesejahteraan sosial serta kematangan sosial, kematangan pribadi dan kematangan mental seseorang yang pada umumnya dicapai seseorang melampaui usia 21 tahun.
Menurut Gunarsa (1996 : 28)  bahwa anak adalah pribadi yang bersih dan peka terhadap rangsangan yang berasal dari lingkungan.
Menurut Suryabarata (1997: 30)  yang di pandang sebagai peletak dasar permulaan psiklogi anak, yaitu bahwa anak tidaklah sama dengan orang dewasa, anak mempunyai kecendrungan untuk menyimpang dari hukum dan ketertiban yang di sebabkan oleh keterbatasan pengetahuan dan pengertian terhadap realita kehidupan, anak-anak lebih biasa dengan contoh-contoh yang di terimanya dari pada aturan-aturan yang bersifat memaksa.
Anak merupakan makhluk yang membutuhkan pemeliharaan, kasih sayang, dan tempat bagi perkembanganya. Selain itu anak juga sangat membutuhkan keluarga dimana peran penting orang tua yaitu memberi kesempatan bagi anak untuk belajar tingkah laku untuk perkembangan yang cukup baik dalam kehidupan bersama.
Menurut UU No. 23 pasal 20 ayat 1 (2002:23) mengatakan bahwa
1.      Negara RI menjamin kesejahteraan tiap-tiap warganya termasuk perlindungan terhadap hak yang merupakan Ham.
2.      Bahwa anak adalah amanah dan karunia Tuhan Yang Maha Esa, yang ada dalam dirinya melekat harkat dan martabat manusia.
3.          Anak adalah tunas profesi dan generasi muda penerus cita-cita perjuangan bangsa.
HAM yang di lindungi UUD 1945 dan konversi tentang hak-hak anak. Anak merupakan titipan Tuhan yang sangat mulia, dia adalah buah hati untuk kita. (http/www.djpp. depkum hokum-pidana.com/2002/23/.html  20:40).
Menurut Purwodarminto (1990 : 54 ) mengatakan bahwa anak adalah seorang yang mampu menciptakan perasaan dan sikap, menentukan kepribadian dan keyakinan yang dimiliki terhadap dirinya, serta lingkungan dimana ia berada.
Kesimpulannya bahwa anak merupakan makluk sosial yang sedang dalam taraf perkembangan yang mempunyai perasaan, pikiran, dan membutuhkan pemeliharaan dan kasih sayang bagi perkembangannya. Dari penulis untuk orang tua yang melakukan perceraian, tetaplah perhatikan anak-anak kalian meski sesibuk apapun kalian dengan kehidupan kalian yang baru, berikan perhatian bukan berarti dengan penuhi segala kebutuhan jasmani mereka, tetapi dengan kasih sayang yang tak kurang dari sebelum kalian bercerai. Tetaplah jadikan diri kalian tempat mengadu bagi anak-anak kalian disaat mereka sedang butuh tempat mengadu, karena sebagai orang tua tempat curhat dan curahan hati anak adalah suatu penghargan yang tinggi bagi orang tua.
B.     Landasan Teori
Landasan teori ini adalah pijakan Penulis dalam upaya menyelesaikan hal-hal yang akan dianalisis dalam penelitian, yaitu tentang Dampak Perceraian Terhadap Perilaku Anak.
Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah Teori Stuktural Fungsional, Teori Konflik, Teori Post Modern dan Teori Sosiogenis .
Talcot Parsons (1994 : 11) dalam teori strutural fungsional menganalisis intitusi keluarga dalam masyarakat. Dalam teori ini talcot berpandangan bahwa setiap masyarakat terdiri atas berbagai bagian yang saling mempengaruhi. Teori ini mencari unsur-unsur mendasar yang berpengaruh didalam masyarakat, mengidentifikasi setiap unsur yang menerangkan bagaimana unsur-unsur tersebut dalam masyarakat. Teori ini menganalisis mengenai konflik yang terjadi dalam keluarga, berangkat dari sebuah pemikiran bahwa telah tergeser atau terganggu struktur dan fungsi keluarga akibat disorganisasi.
Dahrendorf dalam Ritzer (2004 : 282) dalam teori konflik ia mengemukakan bahwa teori konflik merupakan reaksi terhadap fungsionalisme struktural yang terlalu menekankan pada integrasi solidaritas, stabilitas dan keseimbangan mengabaikan konflik dan perubahan sosial. Teori konflik melihat apapun tatanan yang ada di tengah-tengah masyarakat tumbuh dari tekanan yang dilancarkan oleh segelincir orang yang berada pada posisi puncak. Masyarakat dalam kehidupannya memiliki dua wajah (konflik dan konsensus).
Dalam teori konflik masyarakat dipersatukan oleh kekangan yang dilakukan dengan paksaan, sehingga beberapa posisi didalam masyarakat adalah kekuasaan yang didelegasikan dan otoritas pihak lain. 
Konflik juga dibedakan atas 3 dan hubungannya dengan dampak perceraian terhadap perilaku anak :
1.      konflik dalam situasi tertentu dalam hal ini perbedaan pendapat secara tiba- tiba dan tidak bertahan lama.  
2.      Konflik berdasarkan kepribadian yaitu kecewa dengan sikap dan tingkah laku dari setiap individu.
3.      Konflik berdasarkan struktur yaitu pembagian kekuasaan dalam keluarga, dalam pengambilan kuputusan dari sinilah muncul ketidakadilan apabila dalam anggota keluarga tidak ada yang mau mengalah, maka sifat dasar akan selalu membekas dan terbawa dalam diri individu itu.
Mills dalam Ritzer (1959:107) dengn teori post modern ingin melihat tentang realitas kehidupan manusia yang mengalami perubahan sesuai dengan perkembangan zaman. Teori post modern ini lebih menekankan kepada perubahan peran perempuan dari ranah domestic ke ranah public. Menurut mills keterlibatan perempuan pada ranah publik menunjukan bahwa telah mampu mengaktualisasi dirinya dengan berbagai kegiatan diluar rumah. Dengan demikian perempuan secara evolusi atau perlahan-lahan telah melakukan perubahan yang positif dari diri mereka, sehingga perempuan tidak membatasi diri mereka pada ranah domestik saja namun telah berperan juga diranah publik. Teori ini merupakan salah satu paham/perspektif dalam sosiologi yang memandang masyarakat sebagai suatu proses unsur-unsur sosial ekonomi, psikologis yang mulai menunjukan peluang-peluang kearah pola-pola baru melalui  pola-pola perilaku.
Teori sosiogenis atau penyimpangan perilaku dalam (Tanof 2000;10)  melihat  bahwa penyimpangan perilaku merupakan suatu tindakan yang dipelajari dari norma-norma yang menyimpang. Kelompok yang melakukan penyimpangan perilaku adalah karena konflik dalam keluarga atau adanya interaksi antara sekelompok orang yang mendapat cap status/perilaku menyimpang melalui interaksi dan intenitas dalam pergaulan.
Berdasarkan keempat teori ini maka penulis menganggap bahwa teori-teori relevan untuk digunakan sebagai pisau analisis untuk menganalisis tentang dampak perceraian terhadap perilaku anak. Dengan melihat keadaan ini Parson dalam teorinya struktural fungsional ingin melihat keluarga sebagai suatu sistem dalam kehidupan bermasyarakat yang terdiri dari bagian-bagian yang saling berkaitan antara satu dengan yang lainnya sesama anggota keluarga, diantaranya ayah, ibu dan anak-anak, dimana ayah sebagai pencari nafkah serta ibu sebagai pengurus rumah tangga. Namun Dahrendorf dalam teori konflik menuturkan bahwa jika di dalam keluarga tidak terciptannya sebuah komitmen maka keharmonisan didalam keluarga akan terganggu dengan munculnya konflik-konflik kecil, adanya disorganisasi dimana setiap anggota keluarga tidak mampu dalam hal ini gagal menjalankan peran dan fungsinya dengan baik, sehingga tidak ada keharmonisan dalam keluarga pada akhirnya hubungan keharmonisan dalam keluarga tersebut tidak dapat diperbaiki lagi akibat konflik yang terjadi maka jalan yang terbaik adalah perceraian.  Dari kedua teori diatas yakni teori struktural fungsional dan teori konflik yang menuturkan bahwa kedua peran tersebut bisa mengalami satu perubahan akibat disorganisasi keluarga, maka teori post modern lebih melihat pada perkembangan zaman saat ini sehingga dengan keterlibatan perempuan disektor publik memberikan dampak positif bahkan istri sudah bisa menggugat atau menceraikan suami dengan menjatuhkan talak.  Anak memiliki peran dan fungsinya masing-masing yang harus dijaga dengan baik untuk menjaga kestabilitas hubungan dalam keluarga/rumah tangga. Jika salah satu dari bagian tersebut mengalami disfungsi maka secara langsung akan mempengaruhi bagian-bagian yang lain, misalnya orang tua tidak mampu menjalankan peran dan fungsinya dalam mengasuh, membina dan memenuhi semua hak-hak anak maka hal ini menghancurkan hubungan dalam keluarga. Penekanan modernisasi dan sruktural fungsional tersebut, tendensinya lebih ditujukan pada upaya penyatuan persepsi dalam hidup sosial hal yang terjadi di Kelurahan Pasir Panjang sebagai potret keluarga perkotaan yang dipenuhi dengan perbedaan-perbedaan sehingga menimbulkan konflik.  
C.    Kerangka Berpikir
Perceraian merupakan sesuatu yang tidak di harapkan oleh setiap pasangan, perpisahan antara kedua pasangan yang secara syah dalam perkawinan sangat mempengaruhi anak. Walaupun perceraian sebagai fakta sosial yang pada satu sisi dapat dipandang sebagai satu jalan keluar dalam mengurangi bahkan dalam mengatasi ketegangan di antara suami istri, tetapi pada sisi lain merupakan suatu masalah karena bertentangan dengan hakekat perkawinan. Perceraian bukan terjadi begitu saja tetapi ada faktor-faktor penyebabnya.
Konflik dalam keluarga merupakan gambaran dari indikasi ketidakmampuan pasangan suami dan istri dalam membangun nuansa kehidupan keluarga yang harmonis. Keluarga yang tidak harmonis selalu ditandai dengan percecokan dengan dilatarbelakangi oleh faktor-faktor intern dan ektern keluarga. Pemahaman masyarakat tentang perceraian dapat mempengaruhi sikapnya dalam mengambil sebuah keputusan untuk menyelesaikan konflik dalam rumah tangga. Faktor inilah yang sangat berakibat buruk terhadap perilaku anak-anak.  Dari uraian di atas, maka dapat digambarkan melalui kerangka berpikir.
Gambar Bagan 1.
Kerangka Berpikir
 




                        


          
                                  

BAB III
METODE PENELITIAN
A.    Lokasi Penelitian
Penelitian ini di lakukan terhadap pasangan suami istri yang pada saat ini sedang mengalami masalah percearaian. Lokasi dalam penelitian ini dilaksanakan di kelurahan Pasir Panjang, kecamatan Kota Lama, kota Kupang. Alasan penulis mengambil lokasi ini karena dalam lingkungan tersebut terdapat banyak anak yang menjadi korban perceraian.
B.     Variabel Penelitian
Variabel yang di gunakan dalam penelitian ini adalah variabel tunggal yakni Dampak Perceraian Orang Tua Terhadap Perilaku Anak, dengan aspek yang diteliti:
1.      Perceraian terjadi karena adanya disorganisasi keluarga. Disorganisasi keluarga merupakan pecahnya suatu unit keluarga, terputusnya atau retaknya struktur peran sosial jika satu atau beberapa anggota keluarga gagal menjalankan kewajiban dan tanggung jawab sesuai dengan peran status sosial secukupnya.
2.      Faktor-faktor pemicu terjadinya perceraian adalah berbagai macam hal yang menyebabkan adanya perceraian dikelurahan pasir panjang. Faktor-faktor tersebut antara faktor intern dan faktor ekstern keluarga.
23
 
Dampak perceraian orang tua terhadap perilaku anak merupakan akibat dari perceraian yang    membuat perilaku anak mengalami kemorosotan antara lain mengalami depresi, menkonsumsi alkohol, aktifitas seksual dini (pemerkosaan), menjadi keras kapala, sering minum mabok, mengganggu ketenangan tetangga, anak menjadi rendah diri, Dampak lain dimana anak mulai menderita kecemasan yang tinggi bahkan anak-anak terlihat sangat ketakutan, mereka sering kali merasa bersalah, mereka harus hidup dalam kondisi yang berbeda, hidup dalam ketegangan, gampang marah karena frustasi dengan kejadian yang menimpah kedua orang tuanya, pemerkosaan membuat konflik dan lebih ekstrimnya lagi muncul pikiran untuk bunuh diri.
C.    Subjek penelitian/informan
1.      Subjek penelitian/informan
Yang menjadi subjek dalam penelitian ini adalah orang tua dalam hal ini ibu yang berperan sebagai orang tua tunggal dan anaknya akibat perceraian, dan 4 orang tokoh adat yang berdomisili dikawasan Kelurahan Pasir Panjang Kecamatan Kota Lama Kota kupang.
2.      Teknik penarikan sampel
Teknik penarikan sampel yang digunakan adalah purposive sampling dengan karakteristik informan :
1.        Ibu yang berperan sebagai single parent akibat perceraian.
2.        Anak-anak remaja dengan karakterisitik berusia 13-24 tahun yang melakukan berbagai  bentuk penyimpangan akibat perceraian orang tua.
3.        Orang-orang yang dianggap mempunyai peran dalam menyelesaikan masalah perceraian dikelurahan pasir panjang, sehingga berdasarkan teknik sampling di atas, maka jumlah informan dalam peneliian ini adalah 5 orang ibu yang berperan sebagai single parent akibat prceraian, 6 anak-anak remaja
 dan 4 orang tokoh masyrakat.
D.    Jenis dan Sumber Data
  1. Jenis Data
a.       Data Primer adalah data langsung yang diperoleh melalui jawaban informan dan pengamatan langsung dilapangan oleh penulis.
b.      Data Sekunder adalah data yang diperoleh dari berbagai dokumen, laporan, surat  kabar, internet, dan bahan perpustakaan.
  1. Sumber Data 
a.       Penelitian lapangan yaitu Data yang diperoleh secara langsung dari informan di lapangan melalui observasi dan wawancara.
b.      Penelitian kepustakaan yaitu Data yang diperoleh melalui dokumen dan literatur yang berkaitan dengan judul, ataupun lewat sumber yang dipandang mengetahui  masalah.
E.     Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data, dalam pengumpulan data menggunakan metode:
  1. Observasi/partisipasi
Observasi yaitu melakukan pengamatan secara langsung di lapangan yang erat hubungannya dengan masalah yang diteliti yang tentang dampak perceraian terhadap perilaku anak. Dalam pengamatan langsung dilapangan penulis melakukan penelitian dengan melihat masalah yang sedang dialami oleh keluarga yang berlokasi di Pasir Panjang.
  1. Wawancara mendalam
Wawancara yaitu pengumpulan data dengan wawancara secara mendalam dengan informan dilapangan oleh Penulis. Dalam wawancara ini Penulis melakukan pendekatan dengan informan secara kekeluargaan dalam hal ini Penulis melakukan pendekatan dengan cara bercerita mengenai masalah yang sedang mereka alami dalam keluarga mereka. 
F.     Teknik Analisis Data
Setelah mendapatkan data dilapangan maka data tersebut dianalisa berdasarkan klasifikasi dan jenisnya. Dengan demikian, analisis data yang dipergunakan adalah deskriptif kualitatif, yaitu Data  yang dikumpulkan akan ditabulasi berdasarkan klasifikasi menurut jenis dan kelompoknya dan setelah itu dianalisis.

BAB IV
ANALISIS HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A.    GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
1.      Keadaan Geografi
1.1  Luas dan Letak
Kelurahan Pasir Panjang merupakan salah satu dari 10 kelurahan yang berada dalam kecamatan kota lama kota kupang. Luas wilayah kelurahan pasir panjang adalah : 62 Ha dengan batas-batas wilayah   antara lain :
1.    Sebelah Utara berbatasan dengan Pantai Teluk Kupang
2.    Sebelah Selatan berbatasan dengan Kelurahan Nefo Naek dan Kelurahan Fatululi
2.    Sebelah Timur  berbatasan dengan Kelurahan kelapa Lima
3.    Sebelah Barat berbatasan dengan Kelurahan Oeba/kali mati
1.2  Topografi
          Wilayah kelurahan pasir panjang terletak 100 meter dari garis Pantai Teluk Kupang  dalam kawasan areal pemukiman, yang telah tertata sesuai prosedur area pengembangan, pemukiman perumahan tata kota.[1]
1.3  Hidrologi
27

 
          Keadaan iklim di kelurahan Pasir Panjang tidak jauh berbeda dengan kondisi iklim secara umum di kota kupang. Kelurahan pasir panjang mengenal 2 musim di antaranya musim kemarau dan musim hujan. Musim kemarau di perkirakan berawal dari bulan Mei sampai Oktober, sedangkan Musim Hujan Di perkirakan dari bula November sampai bulan April.
2.      Keadaan Penduduk
Pertumbuhan penduduk kelurahan Pasir Panjang pada hakekatnya dipengaruhi oleh tiga faktor yaitu kelahiran, kematian dan perpindahan penduduk.
Kelurahan pasir panjang terdiri dari 1159 Orang yang terperinci dalam Laki-laki 1022 Orang dan Perempuan 137 Orang.
Gambaran mengenal keadaan penduduk kelurahan Pasir Panjang dapat dilihat dari berbagai golongan seperti golongan umur, jenis pekerjaan, tmgkat pendidikan dan agama.
Tabel 1. 
Keadaan penduduk berdasarkan Umur dan Jenis kelamin
No
Perincian umur
Jenis    kelamin
jumlah
%
L
P
1
0 - 4
480
427
907
14,95
2
5 – 9
363
300
663
10,93
3
10 – 14
260
209
469
7,73
4
15 – 19
252
257
509
8,39
5
20 – 24
348
355
703
11,59
6
25 – 29
379
374
753
12,41
7
30 – 34
317
288
605
9,97
8
35 – 39
170
163
333
5,49
9
40 – 44
148
160
308
5,09
10
45 – 49
144
115
259
4,28
11
50 – 54
113
106
219
3,62
12
55 – 59
75
60
135
2,22
13
60 >
108
94
202
3,33
Jumlah
3.157 
2.908
6065
100
Sumber : profil kelurahan pasir panjang, 2011
Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa penduduk kelurahan pasir panjang berjumlah 6065 orang atau 1159 Orang yang terdiri dari laki-laki 1022 orang dan perempuan 137 orang. Jumlah penduduk berdasarkan jumlah terbanyak sampai terendah sebagai berikut ; yang berumur 0 – 4 berjumlah 907 orang (14,95%), yang berumur 25 – 29 tahun berjumlah 753 orang (12,41%), yang berumur 20 – 24 tahun berjumlah 703 orang (11,59%), yang berumur 5 – 9 tahun berjumlah 663 orang (10,93%), yang berumur 30 – 43 tahun berjumlah 605 orang (9,97%), yang berumur  15 – 19 tahun berjumlah 509 orang (8,39%), yang berumur 10 – 14 tahun berjumlah 469 orang (7,73%), yang berumur 35 – 39 tahun berjumlah 333 orang (5,49%), yang berumur 40 – 44 tahun berjumlah 308 orang (5,09%), yang berumur 45 – 49 berjumlah 259 orang (4,28%) yang berumur 50 – 54 tahun berjumlah 219 orang (3,62%), yang berumur 55 – 59 tahun berjumlah 135 orang (2,22%). Pembagian kelompok umur pada tabel di ata tersusun secara baik, hal ini sesuai dengan data asli yang terdapat di lapangan.
3.      Jumlah penduduk menurut jenis pekerjaan atau mata pencaharian
Mata pencaharian sangat berarti bagi seluruh umat manusia, dimana mata pencaharian menunjang kebutuhan baik itu sosial dan ekonomi dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai subjek manusia berperilaku untuk mencapai tujuan tertentu. Mencari pekerjaan merupakan salah satu bentuk manifestasi tindakan yang secara umum bertujuan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Sehubungan dengan itu, sesuai kondisi peluang pekerja yang tersedia maka kelurahan pasir panjang  tidak semuanya bekerja pada sektor tertenru saja namun mereka tersebar dalam menekuni pekerjaan yang berbeda. Berdasarka jenis pekerjaan atau mata pencaharian dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 2.
Keadaan Penduduk Menurut Jenis Pekerjaan Atau Mata Pencaharian
No
Mata pencaharian
Jumlah penduduk
jumlah
%
L
P
1
PNS
167
79
246
9,15
2
TNI
15
0
15
0,56
3
POLRI
190
3
193
7,35
4
Guru
12
26
38
1,43
5
Dosen
6
4
10
0,33
6
Mantri/Bidan
0
7
7
0,26
7
Petani/Nelayan
81
6
87
3,26
8
Pengemudi
14
0
14
0,52
9
Pedagang
24
       13
37
1,39
10
Pelajar/Mahasiswa
592
543
1135
42.65
11
Wiraswasta
628
192
820
30,81
12
Pensiunan
39
15
54
2,12
13
Pendeta
4
1
5
0,17
Jumlah
1772
889
2661
100
    Sumber profil kelurahan pasir panjang, 2011

Berdasarkan data pada tabel di atas dapat di ketahui bahwa sebanyak 2661 orang penduduk telah mempunyai pekerjaan. Mata pencaharian sebagian besar penduduk kelurahan pasir panjang beraneka ragam. Rincian lengkap mengenai data dapat dilihat pada tabel di atas yang menjelaskan tentang tingkat penduduk kelurahan Pasir Panjang.


4.      Jumlah penduduk menurut tingkat pendidikan
Pendidikan merupakan salah satu faktor penting dalam menunjang pembangunan bangsa, karena pendidikan dapat menciptakan sumber daya manusia (SDM) yang lebih baik.  Tingkat pendidikan yang dimiliki seseorang dapat menjadi dasar untuk dapat berpikir baik dalam mengambil sebuah keputusan dalam menyelesaikan persoalan baik diluar maupun didalam diri kita sendiri.  Tingkat pendidikan yang dicapai seseorang dapat menambah wawasan dalam berpikir dan mengambil sebuah keputusan yang terbaik dalam menyelesaikan konflik dalam rumah tangga. Hal ini yang mendorong masyarakat atau sebagaian besar orang untuk mengganggap sekolah (pendidikan) dapat memberikan suatu bayangan atau masa depan bagi seseorang. Bagi sebagian besar orang, pendidikan adalah hal biasa karena mereka melihat bahwa sebagian besar orang berpendidika tinggi masih banyak yang belum mendapatkan pekerjaan.  Adapun tujuan pendidikan ditinjau dari dari sudut sosiologi adalah menjadikan anggota masyarakat tampil dan memiliki kesadaran sosial yang akan membawa pengaruh pada perubahan sosial kea rah perkembangan yang lebih maju dan modern. Maka dari itu pendidikansangat di perlukan demi perkembangan sumber daya manusia (SDM). Mengenai tingkat pendidikan penduduk kelurahan Pasir Panjang dapat dilihat pada tabel berikut. 

Tabel 3.
Jumlah penduduk menurut tingkat pendidikan
No
Tingkat pendidikan
jumlah penduduk
jumlah
%
L
P
1
BLM SKLH
825
754
1579
26,03
2
TK
52
38
90
1,48
3
SD
613
603
1216
20,05
4
SLTP
380
406
786
12,95
5
SLTA
1080
922
2002
33,01
6
D1-D3
48
63
111
1,83
8
S1
138
113
251
4,13
9
S2
16
7
23
0,37
10
S3
4
0
4
0,09

Buta huruf
1
2
3
0,06
Jumlah
3157
2908
6065
100
Sumber profil kelurahan pasir panjang, 2011

Tingkat pendidikan kelurahan Pasir Panjang sudah dibilang cukup baik, dimana penduduk kelurahan Pasir Panjang dari data yang diperoleh sebagaian besar sudah mengecap lembaga pendidikan formal, yaitu dengan jumlah penduduk di bangku SLTA berjumlah 2002 orang (33,01%), SD berjumlah 1216 orang (20,05%), SLTP berjumlah 786 orang (12,95%), S1 berjumlah 251 orang (4,13%), D1-D3 berjumlah 111 orang (1,83%), TK berjumlah 90 orang (1,48%), S2 berjumlah 23 orang (0,37%), S3 berjumlah 4 orang (0,09%), dan buta huruf berjumlah 3 orang (0,06%).
5.      Keadaan penduduk menurut golongan Agama
Agama merupakan sesuatu yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan umat manusia yang percaya adanya pencipta dan maha kuasa. Dengan adanya kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, maka suatu kebahagiaan yang mutlak dalam kehidupan masyarakat akan di capai. Agama sangat diperlukan oleh manusia untuk mengatur kehidupannya kearah yang lebih baik, nilai-nilai yang diajarkan dalam agama akan diterapkan oleh orang tua kepada anak-anaknya. Hal ini karena agama yang dianut sseorang dapat mendatangkan kedamaian bagi batin dan dari individu itu.
Penyebaran lima agama di kelurahan Pasir Panjang dilihat tidak merata dengan penganut yang lebih dominan adalah agama Kristen protestan dan Kristen Katolik, hal ini di karenakan oleh jumlah penduduk yang banyak berasal dari suku bangsa yang berbasis Kristen seperti Timor, Flores, Rote dan lain-lain. Kehidupan keagamaan di kelurahan pasir panjang dapat dikatakan berjalan serasi dengan toleransi dalam suasana hidup rukun. Data penduduk menurut agama dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 4.
Keadaan Penduduk Menurut Golongan Agama
No
Golongan agama
Jumlah penduduk
jumlah
%
L
P
1
Kristen protestan
1718
1627
3345
55,15
2
Ktristen katolik
851
825
1676
27,63
3
Islam
535
417
952
15,69
4
Hindu
52
39
91
1,50
5
budha
1
0
0
0

jumlah
3157
2908
6065
100
Sumber profil kelurahan pasir panjang, 2011

Berdasarkan aspek agama, maka sebagaian besar penduduk kelurahan Pasir Panjang menganut agama Kristen Protestan dengan jumlah 3345 orang (55,15%), pemeluk agama Katolik berjumlah 1676 orang (27,63%), pemeluk agama Islam berjumlah 952 orang (15,69%), pemeluk agama Hindu 91 orang (0,50%), dan pemeluk agama Budha berjumlah 1 orang (0%).
6.      Sarana peribadatan
Untuk memenuhi kebutuhan umat beragama, di kelurahan Pasir Panjang terdapat sarana yang di bangun untuk memenuhi kebutuhan mereka. Dari data yang diperoleh peribadatan yang terdapat dikelurahan Pasir Panjang terdata 1 gereja Katolik, 1 gereja Protestan, 1 masjid Ulul Asmi, sedangkan pura dan wihara belum terdapat di kelurahan ini. Hal ini menyebabkan penduduk yang Bergama Hindu dan Budha harus pergi beribadah ke tempat atau kelurahan yang memiliki sarana ibadanya.
7.      Pemerintahan
Untuk melancarkan tugas pemerintahan di dalam melayani kebutuhan masyarakat pemerintahaan kelurahan Pasir Panjang berkoordinasi dengan lembaga pemberdayaan masyarakat (LPM) dan di bantu oleh 19 Rukun Tangga (RT) dan 6 Rukun Warga (RW). Berikut ini tampilan gambar struktur pemerintahan kelurahan Pasir Panjang :


Gambar 2.
STRUKTUR PEMERINTAHAN KELURAHAN PASIR PANJANG
                                                LURAH  

                                                                                           SEKRETARIS
                                                                                          

 


KASIE KES   KASIE PELUM  KASIE TRATIB  KASIE PEM     KASIE PMK

Ket : ………………..   : Garis Koordinasi
                                       : Garis Komando


Keterangan :
1.   Afonso Ribeiro, ST  (Lurah)
2.   Jonitdje  S. Ndolu, S.Sos (Sekretaris)
3.   Nurmila R. La Ahi, SH (Kasie PMK)
4.   Petty M.P.P. Ly, S.STP (Tratib dan Pem)
5.   Jasinta M. B. O. S. Correira (Kasie Kesos)
6.   Yeni L. Kana, S.Sos (Kasie Pelum)












  1. KARATERISTIK INFORMAN  
1.      Karakteristik Informan Berdasarkan Umur,tingkat pendidikan, jenis pekerjaan,agama.
                        Dalam penelitian ini penulis melibatkan sebanyak 5 single parent ibu yang berperan sebagai orangtua tunggal yang telah bercerai dengan karateristik 6 remaja dan 4 orang tokoh adat sebagai informan. Untuk lebih jelasnya mengenai karateristik informan dapat dilihat pada tabel berikut.                                       
Tabel 5
Jumlah Informan Menurut Kelompok Umur, Tingkat Pendidikan, dan Jenis Pekerjaan.
No
Nama  informan
Umur
Tp
Agama
Pekerjaan
Jumlah
1
IBU ER
-                                          Indra (anak)
43
18
SLTA
SLTA
protestan
protestan
Ibu RT
    -
2

2
IBU BT
-                                          RN(anak)
45
22
SLTP 
SLTA
Protestan
protestan
Pdgng
     -

2
3
IBU U.S
-                                          JMS (anak)
-                                          MR (anak)
50
23
18
SLTP
SLTA
SLTP
Protestan
Protestan
protestan
pdgng
3
4
IBU AT.F
-                                          CO (anak)
50
24
SLTA
MHS
Islam
islam
Pns
   -
2
5
IBU MESYA
-                                          Agus (anak)

52
24

SLTP
SD

Islam
Islam

Pedagang
2

Total




11
Sumber profil kelurahan pasir panjang, 2011









Table 6
Jumlah Informan Menurut Tokoh Adat, Tokoh Agama dan Tokoh Masyarakat

No
Nama informan
(Tokoh adat,agama dan Tomas)
Umur
Tp
Agama
Pekerjaan
Jumlah
1
Bpk Arnol N
54
SLTA
Katolik
Pns
1
2
Bpk Anis S
56
SLTA
Protestan
Pedagang
1
3
Bpk yakob K
54
SLTA
Katolik
Pns
1
4
Rm. Dus D
45
S3
Katolik
Dosen
1

Total




15
          Sumber profil kelurahan pasir panjang, 2011

Pada tabel 5 di atas menujukan bahwa keseluruhan informan baik laki-laki maupun perempuan memilki umur yang bervariasi.
2.      Karakteristik informan menurut tingkat pendidikan
Tingkat pendidikan yang dimiliki seseorang dapat menjadi dasar untuk dapat berpikir baik dalam mengambil sebuah keputusan dalam menyelesaikan persoalan baik dari luar maupun dari dalam diri kita sendiri. Tingkat pendidikan yang dicapai seseorang dapat menambah wawasan dalam berpikir dan mengambil sebuah keputusan yang terbaik untuk menyelesaikan konflik dalam rumah tangga. Hal inilah yang mendorong masyarakat atau sebagian besar orang untuk menganggap sekolah (pendidikan) dapat memberikan suatu bayangan atau masa depan bagi seseorang.
Bagi sebagian besar informan, pendidikan adalah hal biasa, karena mereka melihat bahwa sebagian besar orang yang berpendidikan tinggi masih banyak yang nganggur. Untuk lebih jelas memgenai karakteristik informan berdasarkan tingkat pendidikan, dapat dilhat pada tabel berikut.
Data dalam table 5 di atas menunjukan bahwa pendidikan informan masih sangat rendah, dimana informan yang presentase tertingginya ada pada jenjang pendidikan diantaranya SLTP sebanyak 6 orang
3.      Karakteristik Informan Menurut Jenis Pekerjaan
Sebagai subjek manusia berperilaku untuk mencapai tujuan tertentu. Jadi tindakan manusia bukan tanpa tujuan. Mencari pekerjaan merupakan salah satu bentuk manifestasi tindakan yang secara umum bertujuan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Dalam penelitian ini pekerjaan informan bermacam-macam. Untuk lebih jelasnya mengenai karakteristik informan berdasarkan jenis pekerjaan dapat dilihat pada tabel berikut.
Dalam tabel 5 di atas menunjukan bahwa sebagian besar penduduk kelurahan pasir panjang yang mengalami kasus perceraian sebagaian besar bekerja sebagai Petani, Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sebagian besar masyarakat kelurahan Pasir Panjang keadaan ekonominya masih tergolong rendah.
4.      Karakteristik informan menurut agama
Agama merupakan suatu bagian yang terpenting dari setiap kehidupan manusia yang tidak dapat di paksakan oleh siapapun termasuk para penguasa atau pemerintah karena agama berhubungan langsung dengan sang pencipta yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Agama sangat diperlukan oleh manusia untuk mengatur kehidupannya kearah yang lebih baik. Nilai-nilai yang diajarkan dalam agama akan diterapkan oleh orang tua kepada anak-anaknya. Hal ini karena agama yang dianut seseorang dapat mendatangkan kedamaian bagi bathin dari individu itu. Demikian juga dikalangan informan. Untuk mengetahui karateristik informan menurut agama dapat dilihat pada tabel berikut.
Dalam tabel 5 di atas menunjukan bahwa informan yang beragama Kristen protestan sebanyak 4 Keluarga yang beragama Islam sebanyak 2 keluarga. Hal ini menunjukan bahwa setiap keluarga informan memiliki landasan agama masing-masing dalam membantu menjalankan kehidupan keluarganya setiap hari. Sebab agama merupakan sesuatu yang sangat dibutuhkan dalam setiap kehidupan umat manusia terutama dalam keluarga.
Perceraian merupakan kasus yang tidak diinginkan oleh siapapun bahkan ditantang oleh berbagai pihak, karena mereka tahu bahwa dampaknya sangat besar, dimana dalam sebuah perceraian tentu tidak saja melukai diri pribadi seseorang saja melainkan keluarga dan orang di sekitar kita.





C.    ANALISIS HASIL PENELITIAN
I.                                                                                                                                                          FAKTOR-FAKTOR PEMICU TERJADINYA PERCERAIAN
1.1  Faktor Intern
a.    Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT)
Hidup berkeluarga bukanlah hal yang mudah, pasangan yang sudah matang pun selalu terjadi konflik, hal ini karena pasangan kurang mengendalikan diri dan selalu melakukan sesuatu penuh dengan emosi, apalagi sampai terjadinya penganiayaan, kekerasan dalam keluarga. Kondisi seperti ini seringkali menjadi sumber konflik yang sulit terhindarkan sehingga tidak jarang sering terjadi perecokan antara suami dan istri. Akibatnya yang menjadi jalan keluar adalah perceraian.
Menurut UU No. 23 thn 2004 berbunyi bahwa membuat suami-suami seperti  pengecut dan membuat istri merupakan kodratnya.
(Http/www.frasha. Multiply-com/jurnal/item 2004/41.html  20:50).
Keluarga merupakan unit terkecil dalam masyarakat. Kekerasan dalam rumah tangga merupakan hal yang biasa bagi pasangan sudah menikah, namun kadangkala kekerasan dalam rumah tangga berakibat fatal baik terhadap suami, istri, maupun anak-anak. Banyak kasus menujukan bahwa perilaku kekerasan dalam rumah tangga yang menjadi korban adalah istri dan anak-anak. Perilaku kekerasan merupakan bentuk penyesalan konflik yang salah arah, sehingga mengakibatkan penderitaan pada berbagai pihak.

Hal ini diperkuat dengan hasil wawancara seorang informan U.S (istri),
“Awal katong nikah semuanya bae-bae sa, saat ada masalah ktng masih saling ksh maaf satu sama lain, tapi setelah beberapa tahun kemudian, semuanya berbalik kehidupan dalam ktng punya rumah tangga mulai berubah. Setiap kali b punya suami pulang kerja selalu mabuk,, dia selalu paksa beta untuk melayani dia. Padahal dia tahu kalo beta ni ada sakit (datang bulan)tapi snd mau tau Dia pukul beta ni sampai beta merayap, disaat beta punya orang tua datang tegur beta malah kena marah”. [2]

Dalam kehidupan bermasyarakat, hak dan kewajiban selalu dipegang oleh kaum pria, termasuk diantaranya hak dalam menempati suatu kedudukan dalam masyarakat dan sebagai kepala rumah tangga. Jika dikaitkan dengan teori Konflik dimana masyarakat dipersatukan oleh kekangan yang dilakukan dengan paksaan,  maka hal ini terjadi kekerasan seksual dimana sang suami kecewa dengan sikap dan tingkah laku dari  individu tersebut.
Hal inilah yang mengakibatkan adanya kekerasan dalam rumah tangga karena pria sebagai suami dalam sebuah rumah tangga selalu diproiritaskan dalam keluarga sebagai seorang kepala keluarga. Kekerasan dalam rumah tangga sering terjadi oleh karena beberapa faktor diantaranya masalah seks. Hasil wawancara dengan ibu U.S mengatakan bahwa jiwa sangat tertekan, karena kelakuan sang suami yang berlebihan dalam hal ini cara suami yang sangat kasar dalam melayani istrinya.
Disisi lain perilaku kekerasan dalam rumah tangga dari sudut pandang laki-laki merupakan hal yang biasa tetapi sesungguhnya merupakan penderitaan jika dilihat dari sudut pandang perempuan.
Tindak kekerasan dalam rumah tangga merupakan tindak kejahatan yang harus di tindak lanjut. Namun tindak kekerasan sangat sulit dideteksi karena sering kekerasan dalam rumah tangga didiamkan oleh pihak korban apalagi dia sebagai istri. Hal itu terjadi karena sang merasa kasian terhadap suaminya jika ia berniat untuk melaporkan sang suami ke pihak yang berwajib, ada juga karena secara ekonomi sang istri sangat tergantung pada suami, sehingga membuatnya berada dibawah kekuasaan sang suami.
b.   Pernikahan Usia Muda
Perceraian tidak mungkin terjadi tanpa sebab. Sebab-sebab terjadinya perceraian sangat bervariasi salah satunya karena adanya disorganisasi keluarga. Disorganisasi keluarga merupakan pecahnya suatu unit keluarga, terputusnya atau retaknya struktur peran sosial jika satu atau beberapa anggota keluarga gagal menjalankan kewajiban dan tanggung jawab sesuai dengan peran status sosial secukupnya Berdasarkan hasil penelitian Penulis telah ditemukan bahwa ada begitu banyak faktor pemicu terjadinya perceraian yaitu faktor intern dan faktor ektern keluarga..
       Masyarakat Pasir Panjang tidak memliki ketentuan khusus mengenai usia dalam melangsungkan sebuah pernikahan, tetapi pada usia yang dianggap sudah matang dalam melangsungkan perkawinan adalah 21 tahun ke atas baik itu pria maupun wanita. Apabila terjadi pernikahan dibawah umur  maka dari pihak laki-laki maupun perempuan akan menunggu sampai keduanya mencapai umur yang sudah disepakati oleh kedua belah pihak, barulah keduanya bisa melangsungkan pernikahan. 
Banyak pasangan muda yang menikah secara terburu-buru tanpa mempersiapkan diri sebelumnya atau tanpa sedikitpun mengetahui akan beratnya hambatan yang akan dihadapi karena ketidapastian mereka. Hal ini diperkuat dengan hasil wawancara seorang informan ER (istri)
“ Waktu ktng masih pacaran, ktng snd  pernah pikir akan seperti ini, karena pada saat itu beta masih a di bangku SMA. Maksud ktng puny ia hubungan ni jalani dulu sampe sudah matang barulah ktng pikir untuk nikah. Tapi karena sudah terjadi kecalakaan (beta su hamil) ktng punya orang tua terpaksa kasih nikah ktng supaya ktng punya anak bisa ada  status. Setelah ktng nikah jadi berantakan dengan munculnya konflik-konflik dalam rumah tangga, akhirnya dia memutuskan untuk bercerai”[3]

Disini yang menjadi penyebab terjadinya perceraian yaitu perkawinan pada usia muda, hal ini terjadi karena kedua pasangan muda tersebut melakukan satu kesalahan yaitu kecelakaan (hamil di luar nikah). Hal ini disebabkan karena kurang terkontrolnya orang tua terhadap perkembangan anak, sehingga tidak jarang anak berusaha untuk mencari sendiri. Jika dikaitkan dengan teori konflik dalam situasi tertentu dalam perceraian karena perbedaan pendapat secara tiba- tiba dan tidak bertahan lama.   Konflik berdasarkan kepribadian yaitu kecewa dengan sikap dan tingkah laku dari setiap individu. Hal lain yang menyebabkan terjadinya perkawinan pada usia muda adalah adanya pergaulan bebas, setara dengan berkembangnya tingkat hubungan antara remaja yang satu dengan yang lainya, hubungan  sosial remaja terutama yang berkaitan dengan proses penyesuaian diri sangat berpengaruh pada tingkah laku.
    1. Ekonomi keluarga
Salah satu faktor yang menjadi pemicu terjadinya perceraian adalah masalah ekonomi, dimana setiap anggota masyarakat bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga.  Keinginan untuk memenuhi kebutuhan keluarga mendorong manusia untuk bekerja keras. Ekonomi rumah tangga merupakan penghasilan yang dicapai oleh setiap anggota keluarga diantaranya sandang, pangan, dan papan.
Masalah ekonomi dalam keluarga sangat penting, bahkan menjadi pusat perhatian bagiseluruh elemen masyarakat guna untuk menghidupi keluarganya. Tingkat pendapatan setiap manusia itu berbeda-beda. Bagi yang mempunyai tingkat pendapatan yang tinggi mampu menjalankan kehidupannya tanpa beban, sebaliknya tingkat pendapatan yang rendah akan mempengaruhi semua kebutuhan pokok dalam rumah tangga. Ketidakmampuan itulah yang mengakibatkan mereka terjerumus dalam masalah ekonomi dalam rumah tangga.
Hal ini diperkuat dengan hasil wawancara seorang informan Mesy (istri) :
“ katong ni hidup su susah, beta kalo hidup begini ni sama sa katong sampe tua juga sonde akan ada perubahan. Mana bisa aa perubahan kalo tiap hari uang dong dapat sedikit pi minum mabok sampe tenga malam. Su begitu pulang datang bukannya tidur ma batareak sama ke orang gila. Sapa ju yang tahan dengan laki punya sifat yang begini. Mendingan beta cerai ko beta cari uang sendiri kasih makan ana-ana dong dari pada harap dia yang sonde jelas”. [4]

Kehidupan dalam keluarga jika keduanya saling bertentangan maka keharmonisan keluarga tidak akan tercapai, apalagi suami sebagai kepala keluarga yang mencari nafkah untuk menghidupi keluarganya. Tindak kekerasan sering berakibat fatal bukan hanya terhadap istri, tetapi terhadap masyarakat di sekitar kita.
1.2  Faktor Ektern
    1. Perselingkuhan
 Hidup berkeluarga sebagai suami istri pada awalnya sangat dipenuhi oleh berbagai hal yang membahagiakan, selalu ada kejutan, akan tetapi tidaklah muda bagi dua orang hidup dalam satu rumah, terkadang mengalami konflik-konflik kecil dalam keluarga. Hal ini diperkuat dengan hasil wawancara seorang informan BT (istri),
“Sekarang manyasal sonde ada guna le, awal ktng nikah sepakat bilang, ada anak urus dia sampe besar,. Tapi setelah su nikah, beta punya suami selingkuh sonde tahu masalahnya kenapa. Masuk rumah beta Tanya bae-bae marah bale beta sampe pukul beta, sapa yang mo tahan ju.” [5]

Perselingkuhan merupakan hubungan pribadi antara seorang pria dan seorang wanita diluar nikah. Perselingkuhan terjadi karena suami yang tidak mau menerima kekurangan dari sang istri. Masalah yang dialami oleh Ibu BT adalah kekerasan fisik jika dikaitkan dengan teori konflik dimana Konflik tersebut karena kecewa dengan sikap dan tingkah laku dari individu itu.
. Perselingkuhan merupakan perbuatan yang dunilai sangat memalukan kedua pihak, hal ini dikarenakan sikap seseorang yang kurang mampu mengendalikan diri dari hawa nafsu. Alasan terjadinya perselingkuhan karena umur sang istri yang sudah tua.
 Hal ini diperkuat dengan hasil wawancara seorang informan AT.F(istri):
“ beta ni seorang pegawai negeri, tapi dalam rumah ni beta sonde dihargai sebagai semestinya seorang istri, pulang kantor kena marah, dia selingkuh karena bilang beta su tua, beta sonde sanggup lae dengan dia. Setiap kali saya beta kek kantor dia juga keluar untuk cari perempuan itu diluar”.[6]

 Kasus perselingkuhan akan membawa luka yang mendalam bagi salah satu pasangan yang merasa dikhianati. Perselingkuhan yang dialami oleh Ibu AT adalah alasan sang istri yang umurnya sudah tua. Jika dikaitkan dengan teori post modern ingin melihat tentang realitas kehidupan manusia yang mengalami perubahan sesuai dengan perkembangan zaman. Alasan sang suami ingin mencari yang lebih muda sesuai perkembangan zaman. Perselingkuhan akan membawa bencana bagi keluarga yang mengakibat adanya konflik yang besar. Pasangan yang selingkuh dalam kehidupan keluarganya tidak akan bertahan lama jika perbuatanya  diketahui oleh pasangannya. Akibatnya anak-anak yang menjadi korban pelampiasan kemarahan dari pasangan yang berkhianat untuk menutupi segala kebohongannya. Hubungan dalam keluarga yang dulunya harmonis menjadi dingin komunikasi yang dulunya berjalan lancar berubah menjadi kata-kata kasar berupa cacian yang menyakitkan.. Tekanan psikologi akibat perselingkuhan membuat hubungan keharmonisan dalam keluarga jadi terancam.
Pasangan yang menjadi korban percaraian yang tertekan dan serba salah dalam melakukan segala aktifitas baik di dalam rumah maupun di luar rumah termasuk pergaulan sosialnya. Kondisi ini sangat mempengaruhi tingkah lakunya. Dimana dulunya suka bergaul sekarang menjadi pendiam, bahkan kegiatan di luar rumah pun jarang dilakukan. Hal ini karena ia merasa malu dengan masyarakat disekitarnya.






II. DAMPAK PERCERAIAN  ORANG TUA TERHADAP PERILAKU ANAK
Ketika orang tua memutuskan untuk bercerai, mereka secara khusus telah melewati serangkaian peristiwa yang membawa mereka pada perceraian. Apakah anak-anak mengetahui keputusan orang tua tersebut atau tidak tergantung pada banyak hal. Beberapa dalam korban perceraian akan mengalami efek-efek yang merugikan sehingga mereka menganggap diri mereka sebagai nakal yang telah menyebabkan kedua orang tua mereka bercerai. Dalam pandangan seorang anak, segala sesuatu yang terjadi disekelilingnya disebabkan oleh perilaku. Ia akan menyalahkan dirinya sendiri atas perceraian orang tuanya dan berpikir bahwa ia tidak layak mendapatkan hal-hal baik dalam hidupnya. Anak-anak akan merasa dirinya adalah seorang anak yang tidak beruntung dan berkekurangan.
Reaksi anak terhadap peceraian orang tuanya sangat dipengaruhi oleh orang tua yang berperilaku sebelum dan sesudah perceraian. Dimana sebelum adanya perceraian perilaku anak sebagaimana terlihat anak-anak merasa tenang karena kehidupan keluarganya tidak terganggu, namun setelah adanya perceraian sikap dan perilaku anak-anak menjadi berubah dari yang baik menjadi nakal dan keras kepala, suka mencari masalah di luar. Banyak perubahan yang muncul pada anak-anak selepas kedua orang tuanya bercerai seperti mengalami depresi yang panjang, sering minum mabok, mengganggu ketenangan tetangga, anak menjadi rendah diri, Dampak lain dimana anak mulai menderita kecemasan yang tinggi bahkan anak-anak terlihat sangat ketakutan, anak-anak merasa terjepit di tengah-tengah dalam hal ini siapa yang akan mereka pilih, mereka sering kali merasa bersalah, mereka harus hidup dalam kondisi yang berbeda, hidup dalam ketegangan, gampang marah karena frustasi dengan kejadian yang menimpah kedua orang tuanya.
Gambar 3:

Hal ini diperkuat dengan hasil wawancara seorang anak INDR :
“Beta punya bapak jln kasih tinggal beta punya mama karena dong sering berkelahi, bahkan di depan beta sa bapa sonde  peduli. Beta juga sering dipukui sampai luka-luka. Padahal dulu sebelumnya bapa  pulang dari kerja selalu bawa sesuatu untuk beta dan mama. beta malu dengan  teman-teman disekolah. Saya benci dengan bapa sampai kapanpun. Beta stress dengan bapa beta hampir memjadi seorang pemerkosa.” [7]

Dari uraian di atas terlihat bahwa kekerasan dalam rumah tangga yang dialami oleh sang ibu secara tidak langsung membuat anak ini mengalami depresi yang sangat panjang, ia terpukul dengan perceraian kedua orang tuannya, ia terlihat menjadi rendah diri, dulunya dia anak yang baik sekarang menjadi liar dalam hal ini suka minum mabok, buat kekacauan di luar bahkan dia pernah mengajak anak dibawah umur untuk melakukan hubungan seks. Suatu sikap atau aktivitas dari manusia itu sendiri yang mempunyai bentangan yang sangat luas misalnya berjalan, berbicara, menangis dan menulis. Individu memandang dirinya akan tampak jelas dari seluruh perilakunya. Dengan kata lain perilaku seseorang akan sesuai dengan cara individu memandang dan menilai dirinya sendiri. Apabila individu memandang individu itu akan menampakan perilaku sukses dalam tugasnya, sebaliknya apabila individu memandang dirinya sebagai seseorang yang kurang memiliki kemampuan melaksanakan tugas, maka individu itu akan menunjukan ketidakmampuan dalam perilakunya. Hal ini diperkuat dengan hasil wawancara seorang anak (RN):
“Waktu beta masuk SMA, beta punya bapa suruh beta punya mama untuk pergi TKI, semenjak mama jalan, beta lihat bapak selingkuh dengan orang laen sampai dong ada anak dan pada saat mama pulang dia langsung pisah dengan ktng beta  stres dengan perbuatan bapa yang hanya mementingkan diri sendiri beta minum dong tu hanya untuk kasih hilang beta punya stres.” [8]

Dari uraian di atas dapat dilihat bahwa sebagai anak dia tidak ingin keluarganya berantakan, seorang anak menginginkan kedua orang tuanya punya prinsip sehidup semati. Dalam teori struktural fungsional menganalisis  masyarakat terdiri atas berbagai bagian yang saling mempengaruhi. Tetapi orang tua mereka tidak pernah melihat sisi baik dari seorang anak, apa yang menjadi keputusan mereka itu mereka mengganggap itulah jalan yang terbaik dalam menyelesaikan masalah. Perceraian tidak hanya melukai pasangan yang bercerai saja, namun juga anak dari hasil pernikahan. Perceraian atau perpisahan dapat di tafsirkan sebagai pecahnya suatu unit keluarga dan terputusnya struktur dan peran keluarga. Terputusnya peran keluarga di sebabkan oleh karena salah satu/kedua pasangan memutuskan untuk saling meninggalkan dan dengan demikian mereka berhenti melaksanakan perannya akibatnya sang anak menjadi seorang pemabok untuk menghilangkan stresnya.
Hal ini diperkuat dengan hasil wawancara dengan anak JMS dan MR dari Ibu U.S:
“Ktng punya bapa ni kerja orangnya kerja keras, tapi karena dengan pergaulannya sehari bapa mulai berubah. Pulang kerja dengan mabuk-mabukan bahkan sampai pukul ktng ni, sebagai anak ktng sonde rela ktng punya mama diperlakukan seperti ini, bahkan sampai dong  ayah sonde pernah mengganggap ktng anak-anaknya.”[9]

Dari uraian di atas dapat kita lihat bahwa anak sebagai buah hati kita dalam keluarga, merasa tekanan bathin akibat perbuatan yang dilakukan oleh sang ayah akibatnya mereka sering mabuk-mabukan dan salah satu dari anak ini mencoba untuk bunuh diri. Mereka merasa tertekan dengan kehidupan mereka, masa depan mereka.
Anak merupakan makhluk yang membutuhkan pemeliharaan, kasih sayang, dan tempat bagi perkembanganya. Selain itu anak juga sangat membutuhkan keluarga dimana peran penting orang tua yaitu memberi kesempatan bagi anak untuk belajar tingkah laku untuk perkembangan yang cukup baik dalam kehidupan bersama. Anak adalah amanah sekaligus karunia Tuhan Yang Maha Esa, yang senantiasa harus kita jaga karena di dalam dirinya melekat harkat dan martabat dan hak-hak sebagai manusia yang harus di junjung tinggi. Hak-hak anak merupakan HAM yang di lindungi UUD 1945 dan konversi tentang hak-hak anak. Anak merupakan titipan Tuhan yang sangat mulia, dia adalah buah hati untuk kita.
Gambar 4:

Hal ini diperkuat dengan hasil wawancara dengan anak CO, anak dari ibu AT. F :
“Mama pagi ke kantor,  bapa kerja tetapi tidak tetap. Saya tidak tahu kenapa setiap kali mama masuk rumah dong selalu bakalai, beta takut bapak pukul mama terus.”[10]

Dari uraian di atas dapat kita lihat bahwa sikap orang tua dalam keluarga harus dijaga agar tidak menimbulkan konflik dalam keluarga. Sebab jika perilaku orang tua tidak menunjukan sesuatu yang positif dalam keluarga otomatis mental anak akan terganggu, dan untuk menghilangkan stress mereka dengan cara mabuk-mabukan akibatnya anak menjadi seorang yang keras kepala, Hal ini yang dikatakan oleh Co bahwa semenjak ayahnya  meninggalkan mereka dia menjadi seorang pemabuk karena stres akibat perbuatan sang ayah.

Gambar 5:

  Hal ini diperkuat dengan hasil wawancara seorang anak agus dari ibu meysa :
“Bapa kasih tinggal ktng demi orang lain, entah kenapa beta juga sonde tahu. Yang pasti beta sonde akan memaafkan dia, saya stres karena mama harus bekerja keras untuk ktng. cara saya dengan menjadi seorang pemabuk, beta pernah mau bunuh diri.” [11]

Dari uraian di atas dapat kita lihat bahwa sikap salah satu orang tua dalam hal ini seorang ayah yang tega meninggalkan istrinya demi wanita
 lain, membuat seorang anak yang dulunya dia seorang penurut, sekarang menjadi liar akibatnya anak menjadi susah diatur, menjadi seorang pemabuk bahkan muncul pikiran untuk bunuh diri. Terlihat dari pergaulan sehari-hari.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa Keberhasilan keluarga dalam membentuk kepribadian dan tingkah laku anak sangat tergantung pada subyek-subyek dalam keluarga tersebut. Manusia  sebagai subyek yang  terpenting dalam keluarga harus dapat menjalankan peran dan fungsinya sebagai ayah atau ibu dalam memenuhi kebutuhan anak-anak. Tetapi pada kenyataannya keharmonisan dalam keluarga tersebut mengalami disorganisasi, hal ini karena masing-masing anggota keluarga tidak mampu atau gagal dalam menjalankan peran dan fungsinya baik itu pada ayah maupun ibu. Demikian juga yang terjadi di kelurahan pasir panjang karena adanya konflik dalam keluarga maka keharmonisan dalam keluarga tersebut akan terganggu dan pada akhirnya jalan yang terbaik dalam menyelesaikan masalah tersebut adalah perceraian. Dapat diketahui bahwa Anak korban perceraian sering berperilaku buruk yang tidak wajar misalnya mereka menjadi sangat nakal dan susah diatur bahkan mereka bisa saja mencoba hal-hal yang buruk atau yang tak pantas untuk mereka lakukan, seperti anak mengalami depresi, mulai terlibat alkohol dalam hal ini mabuk-mabukan, suka membuat konflik, sering membuat kekacauan diluar, dan stres yang berkepanjangan akibat perceraian kedua orang tuanya, dan lebih ekstrimnya lagi muncul pikiran untuk bunuh diri. Karena bagi anak perceraian merupakan kehancuran keluarga yang akan mengacaukan kehidupan mereka. Akibat konflik yang terjadi dalam keluarga anak-anak korban perceraian mengalami perubahan dimana nilai-nilai dan norma yang berlaku dalam keluarga mengalami pergeseran yang awalnya hubungan emosional atau hubungan cinta kasih antara orang tua dan anak-anak sangat baik dan harmonis kini mulai mengalami perubahan atau pergeseran  akibat perceraian kedua orang tua mereka. 
III.              SOLUSI DALAM MENANGANI DAMPAK PERCERAIAN ORANG TUA TERHADAP PERILAKU ANAK

Sikap pemerintah merupakan kecendrungan atau kesediaan  yang diramalkan melalui tingkah laku setelah mengevaluasi suatu objek. Selain itu tindakan pemerintah dalam mengangani masalah perceraian sangat didukung oleh masyarakat setempat guna untuk menguragi perceraian yang sampai saat ini masih terus terjadi. Masyarakat sebagai titik temu, berpendapat bahwa perkawinan merupakan suatu hal sakral yang  hanya maut yang dapat memisahkan setiap pasangan bukan manusia, karena manusia merupakan titipan Tuhan yang pada satu saat akan mengambilnya kembali. sebagian masyarakat yang keluarganya utuh tidak menyetujui adanya perceraian, karena perceraian menunjukan bahwa manusia tidak menuruti kasih Allah yang mengatakan bahwa “ Apa yang dipersatukan Allah tidak boleh diceraikan manusia (Matius 19:6). Hubungan dalam sebuah perkawinan merupakan kasih Allah yang sangat besar terhadap umat manusia, dimana perkawinan itu sendiri Allah berikan untuk membahagiakan satu sama lain. Allah memberikan perkawinan agar umatnya saling melayani satu sama lain dalam kasih Kristus. Jika terjadi perceraian berarti kita manusia sudah merusak kasih Allah, bahkan merusak kasih kepada anak-anak. Dengan dasar inilah dari kalangan baik pemerintah maupun pihak yang lain menantang keras adanya perceraian. Untuk mengetahui solusi dari Pemerintah dalam hal ini para Tokoh masyarakat  dalam menangani masalah perceraian dapat dilihat pada tanggapan mereka berikut ini.
b.        Wawancara dengan AN (Tokoh adat):[12]
“Tentu saya sebagai seorang adat yang menangani masalah dalam kelurahan ini tentu saya tidak menyetujui adanya perceraian, bukan saja saya tetapi banyak pihak termasuk elemen masyarakat yang terkait, maka dari itu saya dengan staf-staf yang lain berusaha untuk memberikan satu nasehat agar masalah seperti ini tentunya diselesaikan duli dengan kepala dingin, karena kita tahu bahwa perceraian itu anak-anak yang akan menjadi korban. Kami juga bekerja sama dengan tokoh-tokoh agama dan kalangan pemerintah dan pemerhati masalah perceraian agar hukum dan undang-undang di Indonesia ini harus ditegakan agar masyarakat tidak semena-mena melakukan perceraian”.

c.         Wawancara dengan AS (Bapak RT):
“saya sebagai seorang RT setiap menghadapi persoalan apa saja termasuk perceraian saya selalu menekankan bahwa setiap ada masalah berusahalah berdamai jangan terlalu mengambil sebuah keputusan yang akan menambah resiko. Setiap ada pasangan yang datang saya selalu mengatakan Bapak/Ibu hidup kita semakin hari semakin tua, yang namanya bercerai itu  yang ada akan menambah beban dalam keluarga terutama pada anak-anak. Saya tidak suka adanya perceraian apalagi dalam lingkungan saya sendiri”.

d.        Wawancara dengan YK  (Tomas:
“saya sebagai salah satu tokoh adat dalam kelurahan ini tentu memliki tanggung jawab yang sangat berat, dimana saya sebagai orang tua masalah apa saja termasuk perceraian saya selalu berusaha untuk memberikan jalan damai. Walaupun mereka bersih keras untuk bercerai saya selalu mengatakan bahwa kamu tahu saya sebagai manusia biasa takut untuk melakukan hal ini apalagi yang diatas dia yang sudah mempersatukan kalian!”.

e.         Wawancara dengan Rm. DD (Tokoh Agama),
“Allah tidak menghendaki adanya perceraian, karena pasangan yang sudah di persatukan Allah tidak boleh diceraikan oleh manusia kecuali maut. Dalam ajaran Agama Katolik Bapak Paus menantang keras adanya perceraian, menurut ajaran katolik umat yang melakukan perceraian akan melalui tahapan-tahapan seperti surat dispensasi dari paroki ke keuskupan”.[13]

Perkawinan yang di kehendaki oleh Tuhan adalah perkawinan sebagai persekutuan hidup dan saling melayani dalam persekutuan yang tidak terpisahkan. Dengan demikian Allah berkehendak bahwa pasangan suami sitri harus hidup dalam cinta kasih, saling melayani, tolong-menolong, saling mengasihi dan saling menerima kekurangan dari setiap pasangan untuk mencapai tujuan hidup yang baik.
Lembaga agama sesungguhnya tidak pernah menghendaki adanya perceraian, kepasifan lembaga Agama disebabkan karena belum adanya pemahaman yang sama antara gereja dan perceraian. Dengan adanya sikap lembaga agama yang pasif membuat masyarakat merasa tidak berdosa kepada Allah tetapi mereka semakin terpola untuk memelihara keadaan yang demikian. Tingginya perceraian disebabkan karena kurangnya pemahaman masyarakat terhadap hakikat perkawinan, sehingga mereka cenderung mendukung adanya perceraian. Namun dengan adanya perhatian gereja memlalui kegiatan-kegiatan rohani, keluarga yang berada dalam kegelapan sedikit demi sedikit menjadi paham dan bertumbuh dalam iman, sehingga memiliki kemampuan untuk mengambil suatu keputusan dalam menyelesaikan konflik.
Secara sosologis masalah yang terjadi di Kelurahan Pasir Panjang merupakan salah satu masalah sosial, karena terjadi ketimpangan dalam sistim sosial, dimana masyarakat Kelurahan Pasir Panjang pada umumnya merupakan sebuah sistim sosial yang di dalamnya terjadi interaksi sosial antara individu yang satu dengan individu yang lain atau kelompok yang satu dengan kelompok yang lain yang saling berhubungan satu sama lain. Dalam sebuah sistim sosial interaksi sosial dapat berdampak positif maupun negatif. Dalam suatu sistim sosial seharusnya ada kerja sama dan kekompakan, saling menunjang satu dengan yang lain untuk mencapai satu tujuan tertentu demi kepentingan kesejahteraan bersama.
Keluarga-keluarga yang bercerai di Kelurahan Pasir Panjang merupakan bagian penting dari masyarakat Pasir Panjang pada umumnya. Perceraian sebagai fakta sosial yang pada satu sisi dapat dipandang sebagai jalan keluar dalam mengurangi bahkan mengatasi ketegangan dalam rumah tangga. Perceraian merupakan bencana yang bukan hanya merusak hubungan antara suami, istri dan kedua belah pihak tetapi lebih akan merusak batin anak-anak.  Dengan melihat keadaan ini Parson dalam Teorinya struktural fungsional ingin melihat keluarga sebagai suatu sistem dalam kehidupan bermasyarakat yang terdiri dari bagian-bagian yang saling berkaitan antara satu dengan yang lainnya sesama anggota keluarga, diantaranya ayah, ibu dan anak-anak, dimana ayah sebagai pencari nafkah serta ibu sebagai pengurus rumah tangga. Namun Dahrendorf dalam Teori konflik menuturkan bahwa jika di dalam keluarga tidak terciptannya sebuah komitmen maka keharmonisan didalam keluarga akan terganggu dengan munculnya konflik-konflik kecil, adanya disorganisasi dimana setiap anggota keluarga tidak mampu dalam hal ini gagal menjalankan peran dan fungsinya dengan baik, sehingga tidak ada keharmonisan dalam keluarga pada akhirnya hubungan keharmonisan dalam keluarga tersebut tidak dapat diperbaiki lagi akibat konflik yang terjadi maka jalan yang terbaik adalah perceraian.  Dari kedua teori diatas yakni teori struktural fungsional dan teori konflik yang menuturkan bahwa kedua peran tersebut bisa mengalami satu perubahan akibat disorganisasi keluarga, maka teori post modern lebih melihat pada perkembangan zaman saat ini sehingga dengan keterlibatan perempuan disektor publik memberikan dampak positif bahkan istri sudah bisa menggugat atau menceraikan suami dengan menjatuhkan talak. 
Anak memiliki peran dan fungsinya masing-masing yang harus dijaga dengan baik untuk menjaga kestabilitas hubungan dalam keluarga/rumah tangga. Jika salah satu dari bagian tersebut mengalami disfungsi maka secara langsung akan mempengaruhi bagian-bagian yang lain, misalnya orang tua tidak mampu menjalankan peran dan fungsinya dalam mengasuh, membina dan memenuhi semua hak-hak anak maka hal ini menghancurkan hubungan dalam keluarga. Penekanan modernisasi dan sruktural fungsional tersebut, tendensinya lebih ditujukan pada upaya penyatuan persepsi dalam hidup sosial hal yang terjadi dikelurahan pasir panjang sebagai potret keluarga perkotaan yang dipenuhi dengan perbedaan-perbedaan sehingga menimbulkan konflik.  Terlihat pada pasangan suami istri yang bercerai selalu mementingkan diri sendiri, mereka tidak menyadari bahwa sesunggunya yang menjadi korban dalam masalah ini adalah anak-anak. Sebagaian besar pasangan yang bercerai tidak pernah melibatkan anak-anak dalam mengambil sebuah keputusan untuk bercerai. Anak-anak akan merasa rendah diri ketika melihat teman-temannya yang hidup tenteram bersama keluarga mereka. Rasa kehilangan kasih sayang pun pelan-pelan mulai timbul. mereka merasa seterusnya tidak aka nada yang memperhatikan masa depan mereka apalagi selepas kedua orang tua mereka bercerai. Hal ini juga seringkali mengakibatkan anak-anak kehilangan arah dan melakukan hal-hal yang bertentangan dengan norma-norma yang berlaku. Jika kehidupan anak-anak seperti ini  terus dan tanpa ada perlindungan dari pihak-pihak yang terkait maka pada masa-masa yang akan datang perkembangan anak tidak akan ada perubahan


Tabel 6
Dampak Perceraian Orang Tua Terhadap Perilaku Anak
No
Nama  informan
Faktor Pemicu Perceraian
Dampak pada perilaku anak
Solusi masyarakat
Intern
Ekstern
1.
IBU ER
Indra (anak)
-   KDRT
-   Perkawinan usia Muda
-  Ekonomi keluarga

        
         -
1.Rendah diri
2. mabuk-mabukan
3. sering buat kekacauan di luar
 4. pemerkosaan
Kepada keluarga yang sedang mengalami konflik dalam keluarga diharapkan jangan cepat dalam mengambil sebuah keputusan karena akibatnya sangat fatal. Dan kepada anak-anak jangan cepat putus asa karena masa depan anda msih sangat panjang, petik ini semua sebagai hikmah darti tuhan.
2.
IBU BT
RN(anak
              -
Perselingkuhan
1. pemabuk
3.
IBU U.S
-                                          JMS (anak)
-                                          MR (anak)
KDRT

1.    Mabuk-mabukan
2.    Mencoba untuk bunuh diri
4.
IBU AT.F
CO (anak

Perselingkuhan
1. Menjadi stres
2. Mabuk-mabukan
5.
IBU MESYA
-                                          Agus (anak)

KDRT
         -
1. susah diatur
2. pemabuk
3. muncul pikiran untuk bunuh diri


BAB V
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
Berdasarkan latar belakang permasalahan yang sudah diuraikan di atas atau dalam bab terdahulu, maka dalam bagian ini Penulis menarik kesimpulan yang berhubungan dengan masalah yang di ambil yaitu tentang Dampak Perceraian Orang Tua Terhadap Perilaku Anak sebagai berikut :
1.    Faktor-Faktor Pemicu Terjadinya Perceraian yaitu faktor intern dan faktor ekstern. Faktor intern (KDRT, Perkawinan Usia Muda dan Ekonomi Keluarga) dan faktor ekstern (Perselingkuhan).
2.    Dampaknya terhadap perilaku anak yakni Rendah diri, mabuk-mabukan, sering buat kekacauan di luar , susah di atur, mencoba untuk bunuh diri dan pemerkosaan.
3.    Solusi dalam menangani dampak perceraian yakni diharapkan kepada keluarga yang sedang mengalami konflik dalam keluarga diharapkan jangan cepat dalam mengambil sebuah keputusan karena akibatnya sangat fatal. Dan kepada anak-anak jangan cepat putus asa karena masa depan anda masih sangat panjang, petik ini semua sebagai hikmah dari Tuhan.



62
 
 

B.     SARAN
Berdasarkan kesimpulan di atas, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh keluarga yang pada saat ini sedang mengalami konflik keluarga, yakni:
1.         sebagai Orang tua tunggal pengganti figur seorang ayah dalam keluarga harus memberikan nasehat kepada anak-anak mereka jangan menjadi seorang yang cepat menyerah.
2.    Anak yang menjadi korban perceraian orang tua diharapkan sabar dalam menerima dan menjalani semua yang sudah terjadi dan jangan cepat mengambil sebuah keputusan yang mengancam masa depan.
3.     Para tokoh adat dan tokoh masyarakat sebagai orang yang terpercaya, hendaknya memeberikan satu dorongan yang baik kepada keluarga agar tabah dalam menjalani kehidupan sehari-hari demi masa depan anak.










DAFTAR PUSTAKA
BUKU
Goode. 1994. Sosiologi Keluarga. Penerbit Bina Aksara : Jakarta
Goode. 1995. Sosiologi Keluarga. Penerbit Bumi Aksara : Jakarta
Gunarsa. 1996. Pengembangan Psikologi Anak. Penerbit Tarbiyah  UIN Sunan Kalijaga: Yogyakarta
Hardawiriyana. 1993. Keluarga Sebagai Media Pendidikan. Obor : Jakarta
Moleong, L. 2007. Metode Penelitian Kualitatif. Remaja Rosda Karya Bandung.
Notoatmodjo. 2005. Psikologi Keluarga. Penerbit Rineka Cipta : Yogyakarta
Paus Yohanes Paulus II. 1993. Kitab Hukum Kanonik. Penerbit Obor : Jakarta
Purwodarminto. 1990. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Balai Pustaka : Jakarta
Rizser George, DKK. 2004. Teori Sosiologi (dari teori sosiologi modern, teori konflik, struktural fungsional, sampai dengan perkembangan mutakhir teori post modern). Kreasi Wacana Yogyakarta.
Ritzer George. 1959. Pengantar Sosiologi. Penerbit. FE-UI : Jakarta 
Soekanto Soejono. 1990. Sosiologi suatu pengatar. Penerbit rajawali pers-citra Niaga Buku Perguruan Tinggi : Jakarta
Soekanto, soejono. 1992. Kamus sosiologi. PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta 
Suryabarata. 1997. Pengembangan psikologi. Penerbit Fakultas Psikologi UMM : Malang
Talcot Parsons. 1994. Pengantar Sosiologi. FE-UI: Jakarta
Tunggal. 2003. Sosiologi Keluarga. Penerbit Bina Aksara : Jakarta
William. 2002. Psikologi Keluarga. Penerbit Rineka Cipta : Yogyakarta




KARYA ILMIAH
Tanof, B. Soraya. 2010. Kekerasan Anak Dalam Keluarga. Pluralis Jurnal Ilmu-ilmu Sosial Jurusan Sosiologi. Volume IX. Nomor 1 Oktober ISSN : 1412-8594 FISIP Undana Kupang.
SUMBER ELEKTRONIK/INTERNET
Friedman.  Fungsi Keluarga. http://www.episetrum.com. 23/02/1998. Jam: 20:21:03
Tanof, Soraya Balkis. Kekerasan Dalam Rumah Tangga.    http://fileskripsilengkap.blogspot.com/2007/11/gender_24.html . jam: 20:40
Frasha, UU KDRT (Http/www.frasha. Multiply-com/jurnal/item 2004/41.html  20:50).
 LN, UU Perlindungan Anak (http/www.djpp. depkum hokum pidana.com/2002/23/.html  20:40).


[1] Sumber diperoleh dari kantor lurah pasir panjang                
[2] Hasil wawancara penulis dengan salah satu informan pada tanggal 20  juni 2011 jam 17 wita informan ini adalah seorang single parent akibat perceraian.
[3] Hasil wawancara penulis dengan informan, tanggal 20 juni 2011 di rumah informan. Informan adalah salah satu single parent akibat perceraian.
[4]              Hasil wawancara penulis dengan salah satu informan pada tanggal 20  juni 2011 jam 14 wita informan ini adalah seorang single parent akibat perceraian
[5] Hasil wawamcara penulis dengan informan pada tanggal 20 juni 2011 jam 10 wita dirumah informan. Informan ini adalah seorang single parent akibat perceraian
[6]              Hasil wawancara penulis dengan salah satu informan pada tanggal 20  juni 2011 jam 14 wita informan ini adalah seorang single parent akibat perceraian.
[7] Hasil wawancara dengan seorang informan (anak) pada tanggal 25 juni 2011 jam 12 wita. Informan ini adalah seorang anak yang menjadi korban perceraian akibat perceraian kedua orang tuannya.
[8]  Hasil wawancara dengan seorang informan (anak) pada tanggal 25 juni 2011 jam 12 wita. Informan ini adalah seorang anak yang menjadi korban perceraian akibat perceraian kedua orang tuannya.
[9] Hasil wawancara dengan seorang informan (anak) pada tanggal 25 juni 2011 jam 11 wita. Informan ini adalah seorang anak yang menjadi korban perceraian akibat perceraian kedua orang tuannya.
[10] Hasil wawancara dengan seorang informan (anak) pada tanggal 25 juni 2011 jam 10 wita. Informan ini adalah seorang anak yang menjadi korban perceraian akibat perceraian kedua orang tuannya.
[11] Hasil wawancara dengan seorang informan (anak) pada tanggal 25 juni 2011 jam 13 wita. Informan ini adalah seorang anak yang menjadi korban perceraian akibat perceraian kedua orang tuannya.
[12] Hasil wawancara penulis dengan  informan, tanggal 20 juni 2011 jam 17 wita. Mereka adalah  para tokoh adat,tokoh agama dan tokoh masyaarakat yang dianggap mengetahui masalah mengenai dampak perceraian orangtua terhadap perilaku anak.
[13] Hasil wawancara penulis dengan  informan, tanggal 20 juni 2011 jam 17 wita. Mereka adalah  para tokoh adat,tokoh agama dan tokoh masyaarakat yang dianggap mengetahui masalah mengenai dampak perceraian orangtua terhadap perilaku anak